Periskop.id - Eskalasi perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah memicu krisis energi global yang belum pernah terjadi sebelumnya. 

Konflik bersenjata ini secara langsung melumpuhkan navigasi di Selat Hormuz, titik sempit (choke point) minyak paling vital di dunia. Kondisi ini memaksa negara-negara produsen hidrokarbon di Timur Tengah untuk mencari jalur alternatif guna menyelamatkan ekonomi global dari kehancuran pasokan.

Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA), sebagaimana dikutip oleh Reuters, memberikan peringatan keras bahwa situasi saat ini merupakan gangguan pasokan energi terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah. 

Skalanya bahkan disebut lebih besar dibandingkan gabungan krisis minyak tahun 1970-an dan penghentian pasokan gas pipa Rusia ke Eropa pasca invasi ke Ukraina.

Berikut adalah rincian jalur alternatif ekspor minyak dan gas yang sudah beroperasi maupun yang berpotensi menjadi solusi di tengah lumpuhnya Selat Hormuz.

Jalur Pipa yang Sudah Beroperasi (Existing)

Beberapa negara telah memiliki infrastruktur strategis yang dirancang untuk menghindari Selat Hormuz, meskipun masing-masing memiliki tantangan keamanan tersendiri.

1. Pipa East–West (Arab Saudi)

Arab Saudi mengandalkan Pipa East–West sepanjang 1.200 kilometer yang membentang dari ladang minyak di bagian timur menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah. 

Jalur ini memiliki kapasitas angkut hingga 7 juta barel per hari, dengan kemampuan ekspor efektif saat ini sekitar 4,5 juta barel per hari. 

Dari Yanbu, minyak dapat dikirim ke Eropa via Terusan Suez atau menuju Asia melalui Selat Bab el-Mandeb. Namun, jalur ini sangat rawan serangan drone dan rudal dari militan Houthi di Yaman.

2. Pipa Habshan–Fujairah (Uni Emirat Arab)

Dikenal juga sebagai Abu Dhabi Crude Oil Pipeline (ADCOP), pipa sepanjang 360 kilometer ini menghubungkan ladang minyak Habshan dengan Fujairah di Teluk Oman. 

Beroperasi sejak 2012 di bawah manajemen ADNOC, pipa ini mampu menyalurkan 1,5 hingga 1,8 juta barel per hari langsung ke pelabuhan di luar Selat Hormuz. Sayangnya, aktivitas pemuatan di Fujairah mulai terdampak serangan drone sejak perang Iran pecah pada akhir Februari 2026.

3. Pipa Kirkuk–Ceyhan (Irak–Turki)

Jalur utara ini menghubungkan Kirkuk di Irak dengan pelabuhan Ceyhan di Turki. Setelah sempat mati suri selama 2,5 tahun, pipa ini kembali beroperasi pada September tahun lalu. 

Per 17 Maret 2026, Irak mulai menyalurkan 170.000 barel per hari dengan target peningkatan hingga 250.000 barel per hari melalui kontrak ekspor yang melibatkan Turki, Yordania, dan Suriah.

4. Pipa Goreh–Jask (Iran)

Laporan pasar minyak terbaru dari IEA menunjukkan bahwa Iran sendiri berupaya memanfaatkan terminal Jask untuk menghindari Selat Hormuz. Terminal ini terhubung dengan pipa Goreh–Jask berkapasitas 1 juta barel per hari. 

Meskipun konstruksi terminal belum rampung 100%, uji coba pemuatan minyak di Jask dilaporkan telah berhasil dilakukan pada tahun 2024.

Proyek dan Konsep Rute Alternatif Masa Depan

Di tengah kebuntuan saat ini, muncul berbagai usulan proyek infrastruktur baru yang bersifat jangka panjang.

1. Pipa Irak–Oman

Pada September lalu, Irak mempertimbangkan pembangunan pipa dari Basra menuju pelabuhan Duqm di Oman. Proyek ini masih dalam tahap konsep awal dengan perdebatan antara membangun jalur darat melalui negara tetangga atau pipa bawah laut yang memakan biaya fantastis.

2. Pipa Irak–Yordania

Proyek yang mengalirkan minyak dari Basra ke pelabuhan Aqaba di Laut Merah ini memiliki kapasitas rencana 1 juta barel per hari. Meski sudah disetujui secara prinsip pada 2022, proyek yang pertama kali muncul tahun 1980-an ini masih terganjal kendala biaya, politik, dan keamanan.

3. Kanal Teluk–Laut Oman

Konsep yang paling ambisius adalah pembangunan kanal raksasa untuk memotong Pegunungan Hajar menuju Fujairah, mirip dengan Terusan Panama. Proyek ini diprediksi menelan biaya ratusan miliar dolar dan menghadapi tantangan teknik yang sangat ekstrem.