periskop.id - Harga minyak turun pada Selasa, setelah sebelumnya sempat naik tajam. Penurunan ini dipicu harapan bahwa pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran akan berlangsung pekan ini, yang berpotensi membuka kembali pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
Melansir Antara, Selasa (21/4), harga minyak Brent turun 95 sen atau sekitar 1% ke level US$94,53 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Mei turun US$1,54 atau 1,72% menjadi US$88,07 per barel. Kontrak Mei ini akan berakhir hari Selasa, sedangkan kontrak Juni yang lebih aktif juga melemah 1,3% ke US$86,37 per barel.
Sebelumnya, harga minyak melonjak tajam pada Senin. Brent naik 5,6% dan WTI melonjak 6,9%. Kenaikan ini terjadi setelah Iran kembali menutup Selat Hormuz, jalur penting pengiriman minyak dunia, serta aksi Amerika Serikat yang menyita kapal kargo Iran sebagai bagian dari blokade terhadap pelabuhan negara tersebut.
Meski begitu, pelaku pasar kini lebih fokus pada peluang tercapainya kesepakatan damai atau setidaknya perpanjangan gencatan senjata dalam pembicaraan pekan ini. Namun, risiko konflik lanjutan dan gangguan pasokan minyak masih tetap ada.
Seorang pejabat senior Iran menyebut negaranya sedang mempertimbangkan untuk ikut dalam pembicaraan damai di Pakistan, menyusul upaya Islamabad untuk mengakhiri blokade dari AS. Blokade ini menjadi kendala utama bagi Iran untuk kembali terlibat dalam proses perdamaian, sementara masa gencatan senjata dua minggu saat ini akan segera berakhir.
Analis dari Citi memperkirakan ada peluang penandatanganan nota kesepahaman atau perpanjangan gencatan senjata dalam waktu dekat, yang bisa berkembang menjadi kesepakatan yang lebih luas. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa jika negosiasi gagal, gangguan pasokan bisa berlangsung lebih lama.
Ketidakpastian masih tinggi. Iran belum memutuskan apakah akan hadir dalam pembicaraan, dan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi menilai pelanggaran gencatan senjata oleh AS menjadi hambatan. Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menegaskan bahwa Iran tidak akan bernegosiasi di bawah tekanan.
Di sisi lain, aktivitas pengiriman minyak melalui Selat Hormuz masih terbatas. Jalur ini sangat vital karena mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Jika gangguan di Selat Hormuz berlangsung hingga satu bulan, potensi kehilangan pasokan bisa mencapai 1,3 miliar barel, dan harga minyak diperkirakan bisa mendekati US$110 per barel pada kuartal II 2026, menurut Citi.
Kuwait bahkan telah menetapkan kondisi kahar (force majeure) untuk pengiriman minyak akibat blokade tersebut. Kenaikan harga minyak akibat penutupan selat ini juga sudah menekan permintaan sekitar 3%, menurut analis Societe Generale.
Risiko ke depan dinilai masih condong ke arah kerugian yang lebih besar jika situasi tidak segera normal. Pasokan minyak global diperkirakan baru bisa pulih sepenuhnya pada akhir 2026.
Tinggalkan Komentar
Komentar