Periskop.id - Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang dipicu oleh konflik di Selat Hormuz, Indonesia muncul sebagai salah satu negara dengan daya tahan energi paling tangguh di dunia. 

Berdasarkan laporan terbaru bertajuk “Pandora’s Bog: The Global Energy Shock of 2026” yang diterbitkan oleh raksasa keuangan JP Morgan, Indonesia berhasil menempati peringkat ketiga dalam daftar negara yang paling terlindungi dari guncangan harga minyak dan gas dunia.

Laporan ini menganalisis 52 negara konsumen energi akhir terbesar yang secara kolektif mewakili sekitar 82% konsumsi energi global. 

Dalam studi ini, JP Morgan mengecualikan negara-negara produsen utama yang memberikan subsidi domestik besar seperti Iran, Qatar, Rusia, dan Uni Emirat Arab untuk mendapatkan gambaran objektif mengenai ketahanan konsumen energi terhadap krisis.

Kekuatan Komoditas Domestik sebagai Benteng Pertahanan

Indonesia meraih nilai total insulation factor atau faktor ketahanan energi sebesar 77%. Posisi ini hanya berada di bawah Ukraina (81%) dan Afrika Selatan (79%). 

Ketangguhan Indonesia, bersama dengan negara lain seperti China, India, Vietnam, dan Filipina, sangat dipengaruhi oleh melimpahnya produksi batu bara domestik. 

Keberadaan energi fosil ini menjadi penyangga utama ketika harga minyak dan gas internasional melonjak akibat gangguan distribusi di Timur Tengah.

Berdasarkan data operasional, produksi batu bara Indonesia sepanjang 2025 mencatatkan angka yang luar biasa. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan realisasi produksi nasional mencapai 790 juta ton. Angka ini bahkan telah melampaui target yang dipatok sebesar 739,6 juta ton.

Melimpahnya pasokan ini diperkuat dengan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) yang memastikan kebutuhan dalam negeri tetap tercukupi. 

Secara historis, Indonesia mengalokasikan sekitar 30% produksinya untuk DMO, yang digunakan guna memenuhi kebutuhan pembangkit listrik dan industri pengolahan (smelter) di dalam negeri, sementara 60% dialokasikan untuk ekspor dan sisanya disimpan sebagai cadangan stok nasional.

Melimpahnya batu bara di Tanah Air juga tercermin melalui data Energy Institute Statistical Review of World Energi yang dihimpun oleh Visual Capitalist di mana pada 2024, Indonesia adalah produsen batu bara terbesar ketiga di dunia dengan total produksi 836,1 juta ton, atau menyumbang sekitar 9% dari total produksi global.

Keunggulan Indonesia tidak hanya terbatas pada sektor batu bara. Di sektor gas bumi, Indonesia menempati peringkat ke-13 produsen gas dunia dengan total produksi mencapai 2.472 miliar kaki kubik pada 2024. Secara regional, Indonesia memegang predikat sebagai produsen gas terbesar kedua di Asia Tenggara setelah Malaysia.

Posisi strategis ini didukung oleh infrastruktur Liquefied Natural Gas (LNG) yang sangat mapan, termasuk keberadaan kilang besar di Tangguh dan Bontang yang memperkuat posisi tawar Indonesia dalam distribusi energi cair.

Daftar Negara dengan Ketahanan Energi Tertinggi 2026

Berikut adalah rincian 10 negara dengan tingkat ketahanan energi tertinggi terhadap guncangan minyak dan gas global menurut laporan JP Morgan:

PeringkatNegaraTotal Insulation Factor (%)
1Ukraina81%
2Afrika Selatan79%
3Indonesia77%
4Tiongkok76%
5Uzbekistan71%
6Amerika Serikat70%
7Australia68%
8Swedia66%
9Pakistan65%
10Romania64%