Periskop.id - Masyarakat Indonesia berpotensi menghadapi fenomena ekonomi unik sekaligus menguji kejelian saat berbelanja kebutuhan sehari-hari pada 2026 ini. Praktik yang dikenal dengan istilah shrinkflation atau inflasi susut diperkirakan makin marak di pasar domestik.
Shrinkflation terjadi ketika produsen mengecilkan ukuran, berat, atau volume isi suatu produk, sementara harga jualnya di tingkat konsumen tetap sama.
Langkah ini umumnya dipilih pelaku industri untuk menyiasati lonjakan biaya produksi tanpa harus menaikkan harga jual secara mendadak.
Tekanan Nilai Tukar Rupiah dan Gejolak Biaya Impor
Potensi maraknya shrinkflation pada 2026 ini dipicu oleh dua faktor utama, yakni eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Sektor industri manufaktur nasional sejauh ini masih memiliki ketergantungan yang cukup tinggi terhadap bahan baku impor.
Sektor-sektor yang paling terdampak antara lain industri makanan dan minuman, tekstil, kimia, hingga elektronik. Ketika rupiah melemah atau pasokan global terganggu, biaya pengadaan bahan baku otomatis melonjak drastis.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) periode Januari hingga Mei 2026, nilai impor pada golongan bahan baku atau penolong yang naik sebesar US$10 miliar atau tumbuh 14,41% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Tekanan makin terasa saat melihat pergerakan mata uang garuda. Per 3 Agustus 2026, nilai tukar rupiah tercatat terdepresiasi sebesar 8% jika dibandingkan posisi awal tahun.
Mengacu pada kurs tengah Bank Indonesia, rupiah yang pada 2 Januari 2026 berada di level Rp16.720,00 per dolar AS melemah hingga menyentuh angka Rp18.058,00 per dolar AS pada 3 Agustus 2026.
Dilema Produsen di Tengah Melemahnya Daya Beli
Kenaikan biaya produksi menempatkan para pelaku usaha dalam posisi serba sulit. Di satu sisi, produsen tidak bisa serta-merta menaikkan harga jual karena daya beli masyarakat sedang cenderung melemah. Jika harga dinaikkan, ada risiko konsumen akan berpaling ke merek lain.
Guna menjaga kelangsungan bisnis, banyak perusahaan akhirnya mengambil jalan tengah dengan cara mengurangi ukuran produk atau menurunkan spesifikasi kualitas secara halus.
Menurut Center of Economic and Law Studies (CELIOS), sektor makanan dan minuman menjadi lini bisnis yang paling rentan menerapkan strategi shrinkflation.
Selain karena komponen bahan baku memakan porsi biaya terbesar, penyesuaian dimensi pada kemasan makanan jauh lebih mudah dilakukan dan tidak terlalu mencolok jika dibandingkan dengan produk manufaktur berat atau elektronik.
Produsen menyadari bahwa harga tetap menjadi faktor penentu utama bagi sebagian besar konsumen. Selama label harga di rak toko tidak berubah, masyarakat umumnya tetap akan membeli produk tersebut meski secara tidak sadar jumlah isinya telah berkurang.
Belajar dari Pengalaman Singapura
Fenomena penyusutan ukuran kemasan ini sebelumnya sudah terpotret di negara tetangga. Departemen Statistik Singapura mengamati bahwa strategi shrinkflation paling sering ditemukan pada kelompok barang konsumen yang cepat laku (fast-moving consumer goods).
Berdasarkan frekuensi pengamatan di berbagai supermarket setempat, terdapat lima jenis produk yang paling sering mengalami penyusutan ukuran kemasan.
Produk-produk tersebut meliputi kopi atau teh instan, deterjen cuci, es krim, susu bubuk, serta popok. Selain itu, beberapa jenis barang konsumsi lain yang turut terpengaruh oleh tren ini antara lain sampo, jus buah dan sayur, hingga sereal.
Pengalaman dari Singapura menjadi cerminan bahwa shrinkflation adalah respons adaptif industri manufaktur dalam menghadapi tekanan inflasi bahan baku. Bagi konsumen di Indonesia, kecermatan dalam memeriksa berat bersih (netto) pada kemasan kini menjadi kunci penting saat berbelanja.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar