Periskop.id - Tahun 2025 akan dikenang dalam sejarah modern sebagai periode di mana alam memberikan peringatan paling keras kepada umat manusia. 

Melalui publikasi terbaru berjudul "Counting the Cost 2025: A Year of Climate Breakdown", lembaga kemanusiaan internasional Christian Aid membedah rangkaian bencana alam yang tidak hanya merenggut ribuan nyawa tetapi juga meluluhlantakkan fondasi ekonomi global.

Krisis iklim bukan lagi sekadar prediksi masa depan. Sepanjang tahun 2025, fenomena cuaca ekstrem telah bertransformasi menjadi mesin penghancur ekonomi yang menelan biaya miliaran dolar di berbagai belahan dunia, mulai dari kebakaran hutan dahsyat di Los Angeles hingga badai monsun mematikan yang menerjang wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Berdasarkan data yang dihimpun, berikut adalah ringkasan peristiwa cuaca ekstrem dengan dampak ekonomi dan kemanusiaan paling signifikan selama tahun 2025:

WaktuPeristiwaLokasiKorban JiwaKerugian Ekonomi
JanuariKebakaran Palisades & EatonAmerika Serikat (Los Angeles)431+ jiwaUS$60+ miliar
NovemberSiklon Asia Selatan & TenggaraIndonesia, Malaysia, Thailand, dll1.750+ jiwa~US$25 miliar
Juni-AgustusBanjir Besar TiongkokTiongkok30+ jiwaUS$11,7 miliar
Akhir 2025Badai Topan MelissaJamaika, Kuba, Bahama45+ jiwa~US$8 miliar
Juni-SeptBanjir Monsun India & PakistanAsia Selatan1.860+ jiwa~US$5,6 miliar
Pertengahan-NovRangkaian Topan FilipinaFilipinaRatusanUS$5+ miliar
Jan-JuniKekeringan BrasilBrasil-US$4,75 miliar
FebruariSiklon Tropis Ex-AlfredAustralia1 jiwaUS$1,2 miliar
FebruariSiklon GaranceRéunion (Afrika Timur)5 jiwaUS$1,05 miliar
JuliBanjir Bandang TexasAmerika Serikat135+ jiwa~US$1 miliar

Kebakaran Palisades dan Eaton (AS)

Bulan Januari 2025 menjadi saksi bisu kebakaran hutan paling merusak dalam sejarah Amerika Serikat. Kebakaran Palisades dan Eaton di wilayah Los Angeles meluas tanpa kendali akibat kekeringan panjang dan suhu udara yang ekstrem. 

Kobaran api yang dipacu oleh angin kencang ini menghanguskan lebih dari 9.000 hektare lahan dan menjalar ke kawasan permukiman padat.

Meskipun laporan awal menyebutkan 31 kematian langsung, studi lanjutan mengungkap fakta mengerikan bahwa terdapat sekitar 400 kematian tambahan akibat dampak polusi udara dan stres pasca-bencana. 

Dari sisi finansial, Kebakaran Palisades menelan kerugian US$32 miliar, sementara Kebakaran Eaton menyumbang US$25 miliar. Total kerugian ekonomi melampaui US$60 miliar, sebuah angka yang jauh melampaui rekor-rekor sebelumnya.

Hal yang paling memprihatinkan adalah kesenjangan asuransi. Warga di kawasan berpendapatan rendah sering kali tidak memiliki tanggungan asuransi yang memadai, sehingga mereka harus menanggung beban pemulihan secara mandiri. 

Para ilmuwan memastikan bahwa perubahan iklim akibat aktivitas manusia membuat kondisi cuaca pemicu kebakaran semacam ini 35% lebih mungkin terjadi dibandingkan masa pra-industri.

Siklon Asia Selatan dan Tenggara

Menjelang akhir tahun, tepatnya pada November 2025, Asia Tenggara dan Asia Selatan dihantam oleh kombinasi tiga sistem badai yang sangat mematikan. 

Salah satunya adalah Siklon Senyar yang terbentuk secara langka di Selat Malaka. Peristiwa ini berdampak langsung pada Indonesia dan Malaysia.

Indonesia diperkirakan harus menanggung biaya rekonstruksi lebih dari US$3 miliar (sekitar Rp50,34 triliun, sesuai kurs 27 Januari 2026), dengan kerusakan terparah terjadi di Pulau Sumatra. 

Sementara itu, Thailand menghadapi kerugian fantastis mencapai 500 miliar baht atau sekitar US$15,7 miliar. Secara keseluruhan, rangkaian badai ini merenggut lebih dari 1.750 nyawa di kawasan tersebut.

Kenaikan suhu laut global terbukti menjadi bahan bakar utama bagi siklon-siklon ini. Atmosfer yang lebih panas mampu menahan lebih banyak uap air, yang kemudian dilepaskan dalam bentuk curah hujan ekstrem yang memicu banjir bandang dan tanah longsor.

Banjir Besar Tiongkok

Pada periode Juni hingga Agustus, Tiongkok terendam oleh gelombang hujan musiman yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Di wilayah ibu kota, jalanan berubah menjadi sungai dalam hitungan jam setelah curah hujan harian melampaui rata-rata bulanan.

Kerugian ekonomi sebesar US$11,7 miliar mencakup kerusakan pada 530.000 hektare lahan pertanian. Namun, laporan tersebut menyoroti bahwa dampak paling parah justru bersifat tidak langsung, yakni terganggunya rantai pasok global dan disrupsi bisnis yang berkepanjangan.

Para ahli memperingatkan bahwa atmosfer yang memanas akan terus menggeser wilayah terdampak presipitasi, membawa badai ke daerah-daerah yang sebelumnya jarang mengalaminya.

Badai Topan Melissa

Badai Melissa mencatatkan diri sebagai badai terkuat tahun 2025 yang melanda Karibia. Dengan kecepatan angin mencapai 296 km/jam (setara Kategori 5), badai ini meluluhlantakkan Jamaika, Kuba, dan Bahama. 

Di Jamaika saja, 45 orang dilaporkan meninggal dunia dengan infrastruktur komunikasi dan listrik yang hancur total.

Penelitian atribusi menyimpulkan bahwa perubahan iklim meningkatkan intensitas badai ini sebesar 30%. Suhu permukaan laut yang sangat hangat di Karibia menyediakan energi masif bagi Badai Melissa untuk mengalami penguatan cepat (rapid intensification), sebuah tren yang kini semakin sering diamati oleh para meteorolog.

Banjir Monsun India dan Pakistan

India dan Pakistan mengalami musim monsun yang sangat ekstrem dari Juni hingga September. Hujan deras yang memicu banjir gletser di wilayah pegunungan Pakistan menewaskan lebih dari 1.000 orang dan merusak 12.500 rumah. 

Di India, sektor pertanian yang menopang hidup 1,4 miliar orang mengalami penurunan hasil panen yang signifikan akibat curah hujan yang mencapai 8% di atas rata-rata.

Secara akumulatif, lebih dari 1.860 orang meninggal di kedua negara tersebut. Ilmuwan mengaitkan fenomena ini dengan pemanasan global, di mana setiap kenaikan suhu 1 derajat Celcius, curah hujan monsun berpotensi meningkat sekitar 5%. 

Di Pakistan, intensitas hujan saat ini tercatat 12% lebih tinggi dibandingkan dunia tanpa perubahan iklim.

Rangkaian Topan Filipina

Filipina menghadapi situasi "tanpa waktu jeda" setelah dilanda rangkaian siklon tropis secara beruntun sejak pertengahan tahun hingga November. Mulai dari Topan Ragasa hingga Topan Koto (Verbena), rangkaian badai ini memaksa jutaan orang mengungsi.

Kerugian ekonomi kumulatif melampaui US$5 miliar. Fenomena badai yang datang secara berurutan ini membuat masyarakat tidak memiliki waktu untuk memulihkan diri, sehingga setiap badai baru yang datang menyebabkan kerusakan yang berlipat ganda. 

Studi menunjukkan bahwa 30% dari kerugian ekonomi akibat Topan Fung-wong terkait langsung dengan dampak perubahan iklim.

Kekeringan Brasil

Di belahan dunia lain, Brasil menghadapi kekeringan parah pada paruh pertama 2025. Lebih dari setengah wilayah negara tersebut terdampak, mulai dari Hutan Hujan Amazon hingga pusat pertanian São Paulo. 

Kekeringan ini tidak hanya menghambat pasokan air perkotaan tetapi juga menurunkan produksi komoditas ekspor seperti macadamia hingga 30%.

Kerugian ekonomi akibat kekeringan ini mencapai US$4,75 miliar. Perubahan iklim telah membuat peristiwa kekeringan ekstrem di Amazon 30 kali lebih mungkin terjadi, menciptakan ancaman permanen bagi ekosistem yang merupakan paru-paru dunia tersebut.

Siklon Tropis Ex-Alfred (Australia)

Australia dan wilayah Réunion di Afrika Timur juga tidak luput dari amukan alam pada Februari 2025. 

Siklon Tropis Alfred di Pasifik Selatan menunjukkan lintasan yang tidak biasa dengan bergerak lebih jauh ke selatan menuju wilayah padat penduduk Australia, menyebabkan kerugian US$1,2 miliar.

Siklon Garance (Afrika Timur)

Sementara itu, Siklon Garance menjadi badai dengan kerugian terbesar dalam sejarah Pulau Réunion dengan kerugian US$1,05 miliar. Badai ini memicu lonjakan harga pangan lokal setelah menghancurkan lahan pertanian para petani setempat. 

Tren di Samudra Hindia menunjukkan bahwa siklon kini menjadi lebih basah dan sulit diprediksi, mempersempit ruang evakuasi bagi wilayah yang padat penduduk.

Banjir Bandang Texas (AS)

Texas, Amerika Serikat, menutup catatan kelam ini dengan banjir bandang pada Juli 2025. Curah hujan ekstrem sebanyak 8 meter hanya dalam waktu 45 menit menghantam kawasan perkemahan dan permukiman pada malam hari. 

Tragedi ini merenggut 135 nyawa dan menyebabkan kerugian sekitar US$1 miliar. Pemanasan global terbukti membuat hujan lebat di Texas menjadi 9% lebih intens.