periskop.id - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA mencatatkan kinerja positif sepanjang 2025 di tengah dinamika perekonomian global dan domestik. Hingga Desember 2025, BCA dan entitas anak membukukan total kredit sebesar Rp993 triliun, tumbuh 7,7% secara tahunan (year on year/yoy). Secara rata-rata, pertumbuhan kredit BCA sepanjang 2025 mencapai 10,8%.

Penyaluran kredit BCA tersebar ke berbagai sektor ekonomi, mulai dari manufaktur, perdagangan, restoran, hotel, hingga rumah tangga. Kinerja tersebut sejalan dengan komitmen perseroan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.

Dari sisi pendanaan, dana giro dan tabungan (CASA) BCA meningkat 13,1% yoy menjadi Rp1.045 triliun per Desember 2025. Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk, Hendra Lembong, menyampaikan apresiasi kepada para nasabah atas kepercayaan yang terus diberikan kepada perseroan.

“Dukungan nasabah, pemerintah, dan otoritas menjadi motivasi kami untuk terus berkontribusi bagi perekonomian di seluruh Indonesia. Hal tersebut membantu BCA melewati 2025 dengan kinerja yang solid,” ujar Hendra dalam konferensi pers paparan kinerja BCA, Senin (27/1).

Sepanjang 2025, BCA juga aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan strategis seperti dua kali BCA Expoversary, BCA UMKM Fest, BCA World Summit, serta Gebyar Hadiah BCA. Beragam inisiatif tersebut dinilai berdampak positif terhadap kinerja perseroan sekaligus menjadi wujud komitmen dalam memenuhi kebutuhan nasabah dan masyarakat.

Kredit usaha yang disalurkan BCA tercatat tumbuh 9,9% yoy menjadi Rp756,5 triliun per Desember 2025. Sementara itu, pembiayaan konsumer terjaga di level Rp224,1 triliun, yang ditopang oleh Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sebesar Rp142,3 triliun dan Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) sebesar Rp56,6 triliun. Sejak Oktober 2025, BCA juga turut mendukung penyaluran KPR subsidi atau FLPP swasta.

Adapun outstanding pinjaman konsumer lainnya, yang mayoritas berasal dari kartu kredit, tumbuh 9,8% yoy menjadi Rp25,2 triliun. Dari sisi kualitas aset, rasio loan at risk (LAR) membaik ke level 4,8% dibandingkan 5,3% pada tahun sebelumnya, sementara rasio kredit bermasalah (NPL) tetap terkendali di 1,7%.

BCA juga terus memperkuat pembiayaan berkelanjutan. Kredit ke sektor-sektor berkelanjutan tumbuh 11,7% yoy menjadi Rp255 triliun, setara 25,8% dari total portofolio pembiayaan. Pembiayaan energi baru terbarukan meningkat hampir dua kali lipat menjadi Rp6,2 triliun, sedangkan kredit kendaraan bermotor listrik melonjak 53% yoy menjadi Rp3,6 triliun.

Di sisi kinerja keuangan, total dana pihak ketiga (DPK) BCA tumbuh 10,2% yoy menjadi Rp1.249 triliun. Frekuensi transaksi meningkat 17% yoy mencapai 42 miliar transaksi, dengan pertumbuhan transaksi mobile dan internet banking sebesar 19% yoy.

Pendapatan bunga bersih (NII) naik 4,1% yoy, pendapatan nonbunga tumbuh 16% yoy, dan secara total pendapatan operasional meningkat 5,4% yoy. Perbaikan rasio cost to income (CIR) turut menopang pertumbuhan laba bersih BCA sebesar 4,9% yoy menjadi Rp57,5 triliun pada 2025.

“Kami terus berupaya menyediakan produk dan layanan yang optimal untuk menjawab beragam kebutuhan nasabah,” kata Hendra.

Sejalan dengan transformasi digital, BCA terus mengembangkan aplikasi myBCA dengan penambahan berbagai fitur baru sepanjang 2025, termasuk NFC Pay untuk Android, pembayaran zakat, pembelian tiket transportasi, hingga akses melalui smartwatch. Perseroan juga mengimplementasikan teknologi artificial intelligence untuk meningkatkan layanan, keamanan, dan efisiensi operasional.

Di luar kinerja bisnis, BCA melalui Bakti BCA aktif menjalankan berbagai program sosial, pendidikan, lingkungan, dan pemberdayaan UMKM. Hingga akhir 2025, BCA telah menyalurkan beasiswa kepada 8.500 pelajar, membina puluhan UMKM berorientasi ekspor, serta menjalankan berbagai program pelestarian lingkungan dan budaya di berbagai daerah di Indonesia.