periksop.id - PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) menyerahkan 10 unit kendaraan listrik kepada instansi pemerintah. Terdiri dari lima unit compactor untuk Dinas Lingkungan Hidup dan lima unit dump truck untuk Sumber Daya Air.

Kendaraan tersebut akan digunakan untuk pengangkutan sampah perkotaan yang selanjutnya diolah menjadi energi, mendukung program Waste-to-Energy (WTE) sekaligus menekan emisi karbon di sektor transportasi dan pengelolaan limbah.

Selain itu, VKTR juga melanjutkan pengiriman bus listrik ke Transjakarta melalui operator DAMRI. Dari total pesanan 80 unit, sebanyak 50 unit telah dikirim, sementara 30 unit lainnya tengah memasuki tahap karoseri. 

Perusahaan juga memproduksi dua unit shuttle bus listrik berukuran 8 meter untuk sebuah institusi pendidikan di Jawa Tengah yang ditargetkan selesai pada kuartal II 2026. Memasuki awal tahun, VKTR telah menerima pesanan bus listrik dari pengembang real estat besar di Jakarta.

“Pengembangan ekosistem kendaraan listrik tidak dapat bergantung pada satu pemangku kepentingan saja. Diperlukan kolaborasi antara pelaku industri, pemerintah, lembaga riset, dan asosiasi agar manufaktur lokal mampu memberikan dampak nyata dan berkelanjutan,” ujar A. Ardiansyah Bakrie, CEO VKTR, dalam forum VKTR Day yang digelar di Jakarta, ditulis Kamis (5/2).

VKTR Day merupakam sebuah kegiatan stakeholder gathering yang mempertemukan mitra strategis, pemerintah, pelaku industri, dan asosiasi guna memperkuat kolaborasi dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional. Acara ini dihadiri oleh Presiden Komisaris VKTR Anindya Bakrie, CEO VKTR A. Ardiansyah Bakrie, jajaran direksi VKTR, jajaran direksi holding Bakrie & Brothers, mitra-mitra strategis, seperti Transjakarta, Mayasari Bakti, Laksana, dan lainnya. Acara ini juga dihadiri oleh perwakilan pemerintah, serta sejumlah asosiasi industri.

Dalam kesempatan tersebut, VKTR menandatangani Nota Kesepahaman dengan PT Panah Perak Megasarana yang disaksikan oleh PT PLN Energi Primer Indonesia. Melalui kerja sama ini, VKTR akan menyediakan truk listrik untuk distribusi pelet biomassa, bahan bakar padat terbarukan yang diolah dari limbah kayu dan residu pertanian.

“Integrasi mobilitas listrik ke dalam rantai nilai Waste-to-Energy menunjukkan bahwa sektor transportasi dapat berperan langsung dalam mendukung transisi energi Indonesia,” kata V. Bimo Kurniatmoko, Direktur VKTR.

Acara juga menghadirkan sesi diskusi dengan perwakilan lembaga riset, regulator, dan asosiasi industri, termasuk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kementerian Perindustrian, Kementerian Perhubungan, serta Asosiasi Ekosistem Mobilitas Listrik (AEML). Diskusi menyoroti pentingnya sinergi kebijakan, kesiapan industri, dan implementasi kendaraan listrik di lapangan.

“Penguatan manufaktur lokal merupakan fondasi strategis dalam mempercepat adopsi kendaraan listrik. Forum ini mencerminkan bagaimana kebijakan, kesiapan industri, dan implementasi di lapangan harus berjalan secara paralel,” tambah Ardiansyah Bakrie.

VKTR juga menjalin kemitraan dengan BloombergNEF melalui Bakrie Center Foundation untuk mendukung riset dan data strategis terkait elektrifikasi transportasi. Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan oleh Anindya Bakrie, Presiden Komisaris VKTR, dan Shantanu Jaiswal, Head of India and Southeast Asia Research BloombergNEF.