periskop.id  - PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) mengambil langkah strategis untuk memperluas bisnisnya ke sektor pertambangan dengan rencana akuisisi 45% saham PT Trimitra Coal Perkasa (TCP). Nilai transaksi awal diperkirakan mencapai Rp 1,6 triliun, angka yang jauh melampaui total aset MEJA yang tercatat sebesar Rp 107,08 miliar per Juni 2025 atau sekitar 15 kali lipat dari nilai aset perseroan saat ini.

Direktur Utama MEJA Richie Adrian Hartanto menjelaskan nilai akuisisi ini merupakan kesepakatan awal yang mengacu pada transaksi serupa sebelumnya. Namun, angka tersebut belum bersifat final dan masih berpotensi berubah menyesuaikan hasil penilaian dari Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) yang kini tengah dalam proses penunjukan.

Menurut Richie, langkah ini diyakini akan membawa manfaat konkret dalam hal valuasi bagi MEJA maupun para pemegang sahamnya.

"Kami meyakini akuisisi 45% kepemilikan saham PT Trimitra Coal Perkasa akan memberikan manfaat valuasi yang konkret terhadap MEJA dan para pemegang saham," ucapnya dalam keterbukaan informasi BEI dikutip Kamis (19/2).

Transaksi ini akan dilaksanakan secara bertahap melalui mekanisme share swap atau inbreng saham, dengan jadwal yang menyesuaikan perkembangan produksi TCP. Tahap pertama akuisisi ditargetkan terlaksana pada kuartal III tahun 2026.

Meski nilai akuisisi tergolong besar dibandingkan aset perusahaan saat ini. Dirinya memastikan struktur pengendalian MEJA tidak akan berubah. Pemegang saham pengendali saat ini tetap akan memegang kendali penuh setelah proses akuisisi rampung.

Richie menegaskan strategi ekspansi MEJA yang agresif ke sektor pertambangan akan membuka peluang pertumbuhan baru di tengah dinamika industri energi yang semakin kompetitif. Dengan akuisisi ini, MEJA berharap dapat memperkuat posisinya dan menciptakan nilai jangka panjang yang berkelanjutan bagi pemegang saham.