AMMN Cetak Laba US$497,92 Juta di Semester I-2026
PT Amman Mineral International Tbk membalikkan rugi jadi laba bersih US$497,92 juta pada semester I-2026, ditopang lonjakan produksi tembaga dan emas.

Periskop.id - PT Amman Mineral International Tbk (AMMN) membukukan laba bersih US$497,92 juta pada semester I-2026. Capaian ini berbalik arah dari posisi rugi bersih US$148,72 juta yang tercatat pada periode sama tahun sebelumnya.
Direktur Utama AMMN Arief Sidarto menjelaskan, semester I-2026 menjadi periode penting yang menandai kemajuan signifikan perusahaan. Ia menyebutkan, pertumbuhan produksi yang kuat di seluruh rantai operasi menjadi pendorong utama pencapaian tersebut.
"Kami yakin terhadap prospek jangka panjang tembaga dan emas serta percaya bahwa AMMN berada di posisi yang baik untuk menciptakan pertumbuhan berkelanjutan dan nilai jangka panjang," ujar Arief dalam keterangannya, Senin (21/9).
Lonjakan laba tersebut sejalan dengan penjualan AMMN yang melesat 1.024% secara year on year (YoY) menjadi US$2,05 miliar pada paruh pertama 2026. EBITDA perusahaan turut melejit 1.207% YoY menjadi US$1,13 miliar.
Dari sisi produksi, konsentrat AMMN naik 81% YoY menjadi 347.307 metrik ton kering. Produksi tembaga melonjak lebih tinggi lagi, yakni 136% YoY menjadi 211 juta pon.
Emas mencatat kenaikan paling tajam. Produksinya menanjak 481% YoY menjadi 346.354 ons pada semester I-2026.
Kinerja smelter AMMN juga menunjukkan tren peningkatan yang konsisten. Fasilitas tersebut bahkan mencetak rekor baru pada Juli dan Agustus 2026 ketika tingkat input material telah mencapai kapasitas desain.
Pada Juli 2026, AMMN memperoleh Smelter Project Acceptance Certificate sekaligus menuntaskan proyek bersama kontraktor. Perusahaan kemudian memulai komisioning untuk ekspansi pabrik konsentrator pada pertengahan Agustus 2026.
Prospek AMMN pada semester II-2026 turut mendapat pandangan optimistis dari kalangan analis. Dalam risetnya, Senin (21/9), Stockbit Sekuritas menilai ada tiga faktor pendukung utama bagi kinerja perusahaan ke depan.
Faktor pertama datang dari kenaikan harga rata-rata tembaga ke kisaran US$14.000 per ton. Kenaikan ini dinilai mampu mengompensasi penurunan harga emas secara kuartalan.
Faktor kedua adalah akselerasi volume produksi dan penjualan seiring kinerja smelter yang telah mencapai titik optimal. Stockbit Sekuritas menambahkan, AMMN juga berpotensi memperoleh tambahan kontribusi dari produk sampingan smelter.
Produk sampingan tersebut berupa perak dan asam sulfat yang saat ini belum sepenuhnya terealisasi. Potensi ini menjadi faktor ketiga yang disorot Stockbit Sekuritas dalam menilai prospek kinerja AMMN pada paruh kedua 2026.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai AMMN, amman mineral, Kinerja Keuangan, dan laba bersih dengan mengeklik tautan.







Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.