Periskop.id - Warren Buffett saat ini menduduki jajaran salah satu orang terkaya di dunia dengan total kekayaan yang menembus angka US$147 miliar. Namun, di balik angka yang fantastis tersebut, gaya hidupnya justru jauh dari kesan glamor.
Buffett hingga kini masih menetap di rumah yang sama di Omaha yang ia beli pada tahun 1958 seharga US$31.500 saja. Ia masih menyetir mobilnya sendiri, tidak memedulikan merek mewah, bahkan tetap setia dengan menu sarapan sederhana dari McDonald’s.
Cara Buffett mengelola uang memberikan pelajaran berharga bagi banyak orang. Menjadi kaya rupanya bukan sekadar tentang memiliki penghasilan besar, melainkan tentang kecerdasan dalam menghindari kebiasaan keuangan yang sering kali menjebak masyarakat kelas menengah.
Pola konsumsi yang impulsif dinilai menjadi penghambat utama dalam mengumpulkan aset dan sering kali membuat kondisi finansial seseorang jalan di tempat.
Sebagaimana dilansir dari New Trader U, terdapat lima jenis pengeluaran utama yang menurut kacamata Buffett sebaiknya dihindari jika ingin membangun kekayaan jangka panjang.
1. Membeli Kendaraan Baru yang Nilainya Cepat Turun
Buffett sangat jarang membeli mobil baru karena baginya kendaraan hanyalah alat transportasi yang fungsinya tetap sama selama masih layak jalan. Prinsip utamanya adalah menghindari pembelian barang yang nilainya terus merosot tajam.
Perlu diketahui bahwa mobil baru akan langsung kehilangan sekitar 20% nilainya sesaat setelah keluar dari dealer. Bahkan dalam kurun waktu lima tahun, nilai sebuah mobil bisa turun hingga 60%.
Buffett menilai mobil bekas usia tiga tahun memiliki fungsi yang identik namun dengan harga yang jauh lebih masuk akal. Selisih uang yang dihemat itulah yang seharusnya dialihkan menjadi modal investasi.
2. Terjebak dalam Bunga Kartu Kredit
Utang konsumtif adalah musuh nyata bagi pertumbuhan finansial. Rekan lama Buffett, mendiang Charlie Munger, pernah menegaskan bahwa utang berbunga tinggi sangat sulit untuk dilepaskan.
Buffett sendiri sering mengingatkan bahwa banyak orang gagal secara ekonomi bukan karena kurang bekerja keras, melainkan karena bunga kartu kredit yang mencekik.
Membayar bunga kartu kredit di kisaran 18%-20% per tahun adalah cara tercepat untuk menghancurkan kekayaan.
Menurut Buffett, sangatlah tidak logis jika seseorang berharap investasi memberi hasil besar sementara ia masih memelihara utang dengan bunga yang lebih tinggi dari imbal hasil investasi tersebut.
3. Obsesi pada Merek Mahal dan Simbol Status
Satu kutipan legendaris dari Buffett adalah, "Harga adalah apa yang dibayar, sementara nilai adalah apa yang didapat."
Sayangnya, banyak masyarakat kelas menengah sering kali mencampuradukkan kedua hal tersebut demi pengakuan sosial. Tas seharga jutaan Rupiah pada dasarnya tidak memberikan manfaat fungsional yang lebih baik dibandingkan tas seharga ratusan ribu Rupiah.
Keinginan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain lewat barang bermerek justru menjadi beban finansial. Buffett menegaskan bahwa kesuksesan sejati tidak datang dari opini orang lain terhadap barang yang kita miliki. Dengan mengabaikan simbol status, seseorang dapat mengalihkan dana konsumtif tersebut ke dalam instrumen investasi yang nilainya akan terus tumbuh.
4. Produk Keuangan yang Terlalu Rumit
Kesederhanaan adalah kunci dalam berinvestasi. Buffett memegang prinsip untuk tidak pernah menanam modal pada sesuatu yang tidak ia pahami. Namun, banyak orang justru terjebak membeli produk keuangan rumit yang penuh dengan biaya tersembunyi, seperti asuransi tertentu atau reksa dana dengan biaya manajemen yang tinggi.
Biaya tahunan yang terlihat kecil mungkin nampak sepele bagi kelas menengah, namun dalam jangka panjang, potongan biaya tersebut bisa menghabiskan potensi keuntungan hingga ratusan ribu dolar Amerika.
Buffett menyarankan investor biasa untuk memilih produk sederhana yang berbiaya rendah, seperti saham, yang terbukti mampu mengalahkan performa banyak manajer investasi profesional dalam jangka panjang.
5. Memilih Kepuasan Instan daripada Hasil Jangka Panjang
Salah satu filosofi hidup Buffett yang paling menyentuh adalah pernyataannya bahwa, "Seseorang bisa berteduh hari ini karena ada orang lain yang menanam pohon sejak lama."
Hal ini menekankan betapa pentingnya kesabaran. Pengeluaran kecil yang rutin namun tidak perlu, seperti terlalu sering makan di luar atau langganan aplikasi yang jarang dipakai, jika dijumlahkan bisa mencapai angka ratusan hingga jutaan Rupiah per tahun.
Hambatan terbesar bagi masyarakat untuk naik kelas adalah ketidakmampuan untuk menunda kesenangan instan. Meskipun membelanjakan uang hari ini terasa menyenangkan, keamanan finansial di masa depan hanya bisa dicapai dengan menukar kesenangan saat ini dengan investasi yang berkelanjutan.
Pelajaran terbesar dari Buffett adalah tentang keberanian untuk hidup sederhana hari ini demi kebebasan finansial yang mutlak di hari esok.
Tinggalkan Komentar
Komentar