periskop.id - Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara mengingatkan Indonesia bakal menghadapi gelombang perubahan demografi masif dalam beberapa dekade ke depan yang menuntut pemerintah meracik kebijakan adaptif agar tantangan ini berubah menjadi peluang ekonomi, bukan beban negara.
“Kompleksitas tantangan ini menuntut respons kebijakan yang tidak hanya adaptif, tetapi juga berkelanjutan,” ujar Suahasil dalam forum United Nations Population Fund (UNFPA) High-Level Dialogue di Jakarta, Rabu (24/12).
Suahasil menyoroti fenomena pertumbuhan kelas menengah sebagai salah satu isu krusial. Kenaikan pendapatan per kapita memicu lonjakan aspirasi masyarakat yang tak lagi sekadar urusan perut, tetapi menyasar kualitas pendidikan, kesehatan, hingga partisipasi politik.
"Kelas menengah saat ini tidak hanya berfokus pada kebutuhan pribadi, tetapi juga memikirkan masa depan generasi berikutnya," sambungnya.
Pergeseran pola pikir ini memaksa pemerintah mengubah haluan pembangunan. Fokus tak bisa lagi hanya pada kuantitas infrastruktur, melainkan harus menyentuh aspek kualitas yang inklusif dan responsif terhadap tuntutan zaman.
Tantangan berikutnya datang dari laju urbanisasi yang tak terbendung. Kemenkeu memproyeksikan dalam kurun waktu 20 hingga 25 tahun mendatang, sekitar 70% penduduk Indonesia akan memadati wilayah perkotaan.
Migrasi besar-besaran ini membawa tekanan berat bagi tata kota. Pemerintah harus bersiap menghadapi lonjakan permintaan hunian layak, transportasi publik mumpuni, serta layanan dasar yang merata untuk mencegah ketimpangan sosial antara desa dan kota makin melebar.
Selain itu, Indonesia sedang bergerak menuju struktur penduduk menua (aging population). Angka harapan hidup yang kian tinggi membuat proporsi lansia terus bertambah, membawa risiko beban fiskal dan sosial jika tidak dikelola dengan strategi jitu.
Meski begitu, Suahasil tetap melihat celah optimisme melalui konsep second demographic dividend. Lansia yang sehat dan produktif justru bisa menjadi aset ekonomi lewat kewirausahaan maupun transfer ilmu kepada generasi muda.
Poin terakhir yang tak kalah vital adalah peran perempuan dalam roda ekonomi. Partisipasi aktif kaum hawa, baik di sektor formal, informal, maupun ekonomi perawatan, memegang kunci pertumbuhan nasional yang berkelanjutan.
"Tanpa pemberdayaan perempuan secara menyeluruh, potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan tidak akan optimal," pungkasnya tegas.
Sinergi lintas sektor menjadi harga mati untuk menghadapi dinamika ini. Kemampuan pemerintah membaca perubahan struktur penduduk sebagai peluang akan menentukan arah Indonesia menjadi negara maju di masa depan.
Tinggalkan Komentar
Komentar