Periskop.id - Perusahaan teknologi global Zoho Corporation memandang, Indonesia adalah salah satu negara yang saat ini berpotensi memasuki pasar global pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). CEO Zoho Corporation Shailesh Kumar Davey menilai, persaingan AI dunia belum mencapai tahap akhir pada 2026 ini. 

Industri pengembangan AI dianggap memiliki masa depan yang panjang. Menurut dia, berbagai negara masih memiliki ruang untuk beradaptasi dan mengambil peran dalam ekosistem tersebut, sekalipun itu adalah negara berkembang.

"Saya melihat AI ini masih sebagai awal dari sebuah perlombaan. Apalagi, sekarang pengetahuan sudah dapat diakses oleh semua orang, sehingga ini menjadi ajang persaingan dengan pijakan yang relatif setara. Saya percaya dunia berkembang juga memiliki peluang yang besar (terkait AI),” jelas Shailesh dilansir Antara di Chennai, India.

Menanggapi posisi Indonesia, Shailesh mengatakan bonus demografi dan generasi muda yang produktif, menjadi modal kunci dalam menghadapi perkembangan teknologi AI ke depannya. 

Indonesia sendiri akan merasakan puncak bonus demografi pada 2030 hingga 2045, yang mana jumlah penduduk usia produktif, yakni 15-64 tahun, akan mendominasi dibandingkan usia nonproduktif.

"Generasi muda dan seperti yang sering dikatakan, bonus demografi juga ada. Masih banyak pekerjaan yang perlu dilakukan dan merekalah yang nantinya akan mampu menjalankannya,” ujar pendiri raksasa teknologi dengan lebih dari 50.000 pelanggan itu.

Perkembangan AI global yang masih dinamis membuat peluang Indonesia di ekosistem tersebut sangat terbuka. Dengan catatan, pemanfaatan sumber daya manusia dilakukan secara optimal, menurut Shailesh.

Keamanan Digital
Sementara itu, CEO ManageEngine Rajesh Ganesan menyoroti, munculnya ancaman keamanan siber dalam perkembangan dunia teknologi, seiring meningkatnya pemanfaatan AI di berbagai sektor.

Ia mengungkapkan, keamanan informasi adalah keresahan utama yang ada di benak para eksekutif bisnis di berbagai sektor. Sedangkan pengelolaan keamanan ruang digital hingga kini belum sepenuhnya teratasi.

"AI justru paling banyak digunakan oleh pihak-pihak yang menciptakan serangan siber itu sendiri, misalnya dalam membuat trik pembayaran atau menggunakan AI generatif untuk menciptakan serangan phishing," terang Rajesh Ganesan saat menjadi pembicara di ManageEngine Day 2026, di India.

Menurut Rajesh, pemanfaatan AI di bidang keamanan digital akan menjadi kombinasi ‘sempurna; dalam perkembangan pasar bisnis teknologi mendatang.

"Kami melihat pentingnya menggunakan AI untuk menangkal serangan-serangan yang memanfaatkan AI itu sendiri. Dua hal ini menjadi area yang sangat penting, yang juga sedang kami fokuskan di ManageEngine," ungkapnya. 

Pusat Data
Sebelumnya, perusahaan teknologi global Zoho Corporation menyatakan minatnya untuk membangun pusat data di Asia Tenggara, salah satunya di Indonesia.

"Dalam waktu dekat, kami akan membangun lokasi baru untuk (pusat data) itu. Terkait keputusan membuka pusat data, pada awalnya kami memulai dengan menyediakan layanan terlebih dahulu, kemudian membuka kantor lokal, lalu menempatkan lebih banyak orang untuk mendukung pelanggan dan membantu mitra," kata CEO Zoho Corporation Shailesh Kumar Davey di Chennai, India, Rabu.

Selanjutnya, keputusan untuk mendirikan pusat data kelak bergantung pada tingkat pertumbuhan bisnis dan jenis regulasi lokal yang berlaku di Indonesia. "Kombinasi dari kedua faktor inilah yang menjadi dasar dalam menentukan kapan kami akan membangun pusat data," jelas Shailesh.

Pengembang layanan teknologi yang berbasis di India ini menyebutkan bahwa sejak 2025, perusahaan telah fokus melakukan ekspansi di Timur Tengah serta Asia Tenggara.

Shailesh mengungkapkan, transformasi digital di kawasan Asia Tenggara maupun Timur Tengah sedang bertumbuh sangat tinggi. Salah satunya didasari dorongan yang kuat dari pemerintah negara-negara di wilayah tersebut.

"Di negara berkembang dan negara dengan ekonomi menengah, transformasi digital sedang terjadi saat ini. Kami memiliki rangkaian alat, serta layanan yang tepat untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Itulah sebabnya kami melihat tingkat pertumbuhan yang sangat baik di negara-negara tersebut," tuturnya.

Hingga awal 2026, Zoho Corporation sudah memiliki 20 pusat data di seluruh dunia, dengan pembangunan fasilitas terbaru ada di Dubai dan Abu Dhabi, UEA.