Periskop.id - Setelah melewati masa transisi yang penuh dengan ekspektasi tinggi selama bertahun-tahun, potensi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sebagai penggerak ekonomi utama diperkirakan akan memainkan peran krusial bagi perekonomian global pada 2026.
Namun, optimisme terhadap teknologi ini datang bersamaan dengan peringatan keras dari para pelaku pasar mengenai stabilitas sektor teknologi itu sendiri.
Berdasarkan laporan yang dilansir dari The Guardian pada Selasa (30/12), hasil survei terbaru dari Deutsche Bank terhadap para klien institusionalnya mengungkapkan fakta yang mengejutkan. Pecahnya gelembung teknologi atau tech bubble menempati posisi teratas dari 15 risiko terbesar yang diwaspadai untuk tahun mendatang.
Sebagai informasi, tech bubble adalah peningkatan harga sekuritas yang tidak berkelanjutan yang didorong oleh spekulasi saham teknologi, yang sering ditandai dengan pertumbuhan harga saham yang cepat dan valuasi yang melambung tinggi.
Sebanyak 57% responden menempatkan potensi kejatuhan sektor teknologi ini sebagai satu dari tiga risiko utama yang paling mengancam stabilitas global.
Jim Reid, yang menjabat sebagai Kepala Riset Makro Global di Deutsche Bank, menyoroti fenomena ini dengan cukup serius. Menurut pengamatannya, belum pernah ada satu risiko spesifik yang begitu mendominasi dan melampaui kekhawatiran lainnya saat memasuki tahun baru.
Hal ini menjadikan isu gelembung teknologi sebagai perhatian sentral bagi para pemodal dan pembuat kebijakan memasuki tahun 2026.
Dinamika Pertumbuhan G7 dan Tantangan Global
Meskipun kecerdasan buatan diprediksi menjadi mesin pendorong baru, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) global secara keseluruhan pada 2026 justru diperkirakan akan mengalami perlambatan.
Faktor utama penghambat ini adalah dampak dari kebijakan tarif yang diberlakukan oleh pemerintahan Donald Trump di Amerika Serikat, yang secara langsung menekan arus perdagangan internasional.
Selain itu, daya beli konsumen di berbagai belahan dunia masih berada dalam kondisi tertekan akibat beban inflasi tinggi dan biaya pinjaman yang mencekik selama bertahun-tahun terakhir.
Dalam peta persaingan ekonomi negara maju, Amerika Serikat diproyeksikan akan terus memimpin pertumbuhan di kelompok negara G7. Posisi tersebut diperkirakan akan diikuti oleh Kanada dan Inggris di peringkat selanjutnya.
Di sisi lain, China sebagai kekuatan ekonomi baru pesaing G7 diprediksi melambat karena pemerintah di Beijing menghadapi tantangan yang semakin kompleks dalam upaya memacu kembali aktivitas ekonomi domestik mereka.
Harapan pada Normalisasi Inflasi
Sisi positifnya, terdapat harapan besar bahwa laju kenaikan harga konsumen atau inflasi akan melambat secara signifikan pada 2026.
Para ekonom memprediksi terjadinya fase normalisasi inflasi di negara-negara maju, sebuah kondisi yang akan membuka jalan bagi bank-sentral dunia untuk mengakhiri siklus penurunan suku bunga. Langkah ini secara teoritis akan mengurangi hambatan ekonomi yang selama ini berasal dari mahalnya biaya modal.
Namun, transisi ini tidak lepas dari drama politik. Di Amerika Serikat, masa jabatan Jerome Powell sebagai Ketua Federal Reserve akan berakhir pada bulan Mei. Pasar kini tengah berspekulasi apakah penggantinya nanti akan tunduk pada tekanan politik Trump untuk melakukan penurunan suku bunga yang lebih agresif.
Kekhawatiran akan adanya campur tangan langsung dari Washington terhadap independensi bank sentral menjadi beban tersendiri bagi pasar keuangan global.
Sementara itu, Inggris menghadapi situasi yang unik di antara kelompok G7. Meski sempat diprediksi oleh IMF akan mengalami inflasi tertinggi, kebijakan anggaran dari Menteri Keuangan Rachel Reeves memberikan napas baru.
Bank of England menilai kebijakan tersebut berpotensi menurunkan inflasi utama mendekati target 2% pada musim panas mendatang.
Di kawasan Eropa, Bank Sentral Eropa (ECB) kemungkinan besar akan menahan diri dari kebijakan baru yang drastis karena inflasi di zona mata uang tunggal sudah mendekati target.
Memasuki Fase Normal Baru
Jack Meaning, Kepala Ekonom Inggris di Barclays, memberikan perspektif bahwa dunia kini sedang bergeser dari periode guncangan berulang menuju fase yang terasa lebih normal.
Jika tidak ada guncangan baru yang muncul secara mendadak, pembahasan kebijakan ekonomi pada 2026 diperkirakan hanya akan berkisar pada penyesuaian-penyesuaian kecil di sekitar target, serupa dengan situasi stabil sebelum terjadinya lonjakan inflasi besar beberapa tahun silam.
Meskipun demikian, ketegangan perdagangan internasional tetap menjadi variabel yang sulit ditebak. Walaupun skenario terburuk dari pengumuman kebijakan Trump belum sepenuhnya terwujud, tingkat tarif Amerika Serikat saat ini masih jauh lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.
Ketidakpastian kebijakan perdagangan ini diprediksi akan tetap berada pada level yang tinggi sepanjang tahun 2026, yang menuntut para pelaku ekonomi untuk terus waspada dan adaptif.
Tinggalkan Komentar
Komentar