periskop.id - Nilai tukar rupiah ditutup menguat pada penutupan perdagangan akhir tahun 2025, Rabu 31 Desember 2025, meskipun di saat yang sama indeks dolar AS tercatat menguat.
Mata uang rupiah naik 91 poin ke level Rp16.680 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.771. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah sempat menguat hingga 95 poin.
“Untuk perdagangan Jumat 2 Januari 2026, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.680- Rp16.710,” ulas Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi, Rabu (31/12).
Dari eksternal. Ibrahim mengatakan pasar terguncang oleh rilis risalah rapat kebijakan Federal Reserve bulan Desember. Rilis tersebut mengungkapkan perbedaan pendapat yang mendalam di antara para pembuat kebijakan mengenai arah suku bunga pada tahun 2026.
“Meskipun Fed menurunkan suku bunga seperempat poin persentase pada rapat tersebut, risalah tersebut menunjukkan bahwa beberapa pejabat semakin berhati-hati untuk melakukan pelonggaran lebih lanjut, dengan alasan tekanan inflasi yang tinggi dan ketidakpastian mengenai prospek ekonomi,” kata Ibrahim.
Sementara, yang lain berpendapat bahwa kebijakan yang ketat dapat berisiko memperlambat pertumbuhan terlalu tajam jika dipertahankan terlalu lama.
Pada hari ini, rilis data aktivitas pabrik tiongkok kembali tumbuh pada bulan Desember. Angka indeks manajer pembelian resmi menunjukkan bahwa manufaktur kembali bergerak di atas angka 50 poin yang memisahkan ekspansi dari kontraksi, menunjukkan peningkatan moderat dalam permintaan domestik menjelang akhir tahun. Investor memandang data tersebut sebagai sinyal positif yang hati-hati untuk ekonomi terbesar kedua di dunia setelah berbulan-bulan momentum yang lesu.
Ketegangan geopolitik memberikan sedikit kelegaan sepanjang tahun, meskipun dampaknya terbukti berumur pendek. Serangan terhadap infrastruktur energi Rusia di tengah perang di Ukraina secara berkala menimbulkan kekhawatiran akan gangguan pasokan. Konflik Israel-Hamas dan ketegangan antara AS dan Iran juga kadang-kadang memanas, memperbarui kekhawatiran tentang potensi gangguan terhadap aliran minyak Timur Tengah.
Secara terpisah, ketegangan antara Washington dan Caracas menambah ketidakpastian seputar ekspor Venezuela, yang sempat mendukung harga. Baru-baru ini, Uni Emirat Arab mengatakan akan menarik pasukannya dari Yaman setelah ketegangan memanas dengan sekutu Teluk, Arab Saudi, terkait operasi militer di negara yang dilanda perang tersebut.
Dari dalam negeri, pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026 diproyeksikan berada di kisaran 5%, angka yang dinilai masih wajar dan mencerminkan stabilitas perekonomian domestik. Namun, pemerintah tidak dapat hanya mengandalkan konsumsi rumah tangga sebagai mesin pertumbuhan. Investasi perlu terus ditingkatkan agar mampu membuka lapangan kerja baru dan pada akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi.
Sedangkan, tantangan ekonomi ke depan masih cukup berat, mengingat perkembangan geopolitik global dan dinamika fragmentasi perdagangan internasional masih sulit diprediksi
“Pemulihan ekonomi domestik Indonesia masih belum maksimal karena tekanan harga komoditas pangan dan energi serta daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih,” kata Ibrahim.
Selain itu, Indonesia juga memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap impor, mulai dari barang modal hingga bahan pangan, sehingga devisa negara justru kembali mengalir ke luar negeri. Berbagai faktor tersebut membuat fundamental ekonomi Indonesia relatif lebih rentan dibandingkan negara-negara lainnya di kawasan Asia Tenggara, sehingga mengurangi daya saing Indonesia.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, penguatan fundamental ekonomi domestik menjadi penting, dengan tidak meletakkan seluruh beban pertumbuhan pada daya beli masyarakat semata.
“Belanja pemerintah harus berperan lebih efektif dalam menghasilkan dampak berganda terhadap perekonomian rakyat, sedangkan sektor ekspor perlu dikembangkan untuk memproduksi lebih banyak komoditas bernilai tambah tinggi,” pungkas Ibrahim.
Tinggalkan Komentar
Komentar