Periskop.id - Badan Pusat Statistik (BPS) secara resmi merilis data perkembangan harga barang dan jasa di penghujung tahun 2025. 

Berdasarkan laporan terbaru, Indonesia mencatatkan inflasi tahunan atau year on year (y-on-y) sebesar 2,92% pada Desember 2025. Angka ini mencerminkan dinamika ekonomi yang cukup stabil namun tetap menunjukkan adanya tekanan kenaikan harga di berbagai sektor strategis.

Secara bulanan atau month-to-month (m-to-m), tingkat inflasi pada Desember 2025 berada di angka 0,64%.

Rincian Inflasi Berdasarkan Wilayah

Fenomena kenaikan harga ini tidak terjadi secara merata di seluruh tanah air. Jika ditinjau dari level provinsi, Provinsi Aceh menduduki peringkat tertinggi dengan tingkat inflasi mencapai 6,71%. 

Sebaliknya, Provinsi Sulawesi Utara tercatat sebagai wilayah dengan inflasi terendah di Indonesia, yakni hanya sebesar 1,23%.

Ketimpangan harga juga terlihat jelas pada level kabupaten dan kota. Kota Gunungsitoli menjadi sorotan karena mengalami lonjakan inflasi y-on-y tertinggi secara nasional dengan angka fantastis mencapai 10,84%.

Di sisi lain, kondisi harga yang paling stabil ditemukan di Maumere dan Kabupaten Minahasa Utara, di mana kedua wilayah tersebut hanya mencatatkan inflasi sebesar 0,38%.

Sektor Pengeluaran yang Mengalami Kenaikan

Inflasi tahunan ini dipicu oleh naiknya indeks pada sebagian besar kelompok pengeluaran masyarakat. Berikut adalah rincian kenaikan pada tiap kelompok pengeluaran:

  • Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya: Menjadi penyumbang lonjakan tertinggi sebesar 13,33%.
  • Makanan, Minuman, dan Tembakau: Mengalami kenaikan sebesar 4,58%.
  • Kesehatan: Naik sebesar 1,83%.
  • Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga: Meningkat 1,62%.
  • Penyediaan Makanan dan Minuman atau Restoran: Naik 1,46%.
  • Transportasi: Mengalami kenaikan 1,23%.
  • Pendidikan: Tercatat naik 1,22%.
  • Rekreasi, Olahraga, dan Budaya: Meningkat sebesar 1,17%.
  • Pakaian dan Alas Kaki: Naik tipis sebesar 0,66%.
  • Perlengkapan, Peralatan, dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga: Naik sebesar 0,20%.

Analisis Berdasarkan Komponen Inflasi

BPS juga membagi data inflasi ke dalam tiga komponen utama untuk memberikan gambaran yang lebih mendalam, di antaranya:

1. Komponen Inti
Inflasi inti merupakan komponen yang cenderung stabil atau persisten karena dipengaruhi oleh faktor fundamental seperti interaksi permintaan dan penawaran, lingkungan eksternal (nilai tukar dan ekonomi global), serta ekspektasi inflasi di masa depan.

Pada Desember 2025, inflasi inti y-on-y tercatat sebesar 2,38% dengan kenaikan bulanan sebesar 0,20%.

2. Komponen Harga Bergejolak (Volatile Food)
Komponen ini sangat dipengaruhi oleh kejutan (shocks) seperti musim panen, gangguan alam, atau fluktuasi harga pangan internasional. 

Inflasi y-on-y pada komponen ini mencapai angka yang cukup tinggi, yaitu 6,21%, dengan inflasi bulanan sebesar 2,74%.

3. Komponen Harga yang Diatur Pemerintah (Administered Prices)
Kelompok ini mencakup harga yang ditentukan oleh kebijakan pemerintah seperti BBM bersubsidi, tarif listrik, dan tarif angkutan. 

Komponen ini mengalami inflasi y-on-y sebesar 1,93% dan inflasi bulanan sebesar 0,37%.