periskop.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahun ke tahun (year on year/yoy) pada Januari 2026 sebesar 3,55% dibandingkan Januari 2025. Inflasi tersebut tercermin dari kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 105,99 pada Januari 2025 menjadi 109,75 pada Januari 2026.

‎Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan inflasi yoy pada Januari 2026 terutama didorong oleh kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang mencatat inflasi cukup tinggi, yakni 11,93%, dengan andil terhadap inflasi sebesar 1,73%.

‎"Nah komoditas dengan andil inflasi terbesar pada perumahan air, listrik, dan barang bakar rumah bahan, bakar rumah tangga yaitu komoditas listrik, tarif listrik teman-teman semuanya," kata Ateng dalam konferensi pers BPS, Jakarta, Senin (2/2).

‎Selain kelompok tersebut, komoditas lain yang juga memberikan andil dominan terhadap inflasi tahunan adalah emas perhiasan.

Ateng menjelaskan, tingginya inflasi yoy pada Januari 2026 terjadi meskipun secara bulanan Indonesia mencatat deflasi. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh low base effect.

Ia mengingatkan bahwa pada Januari dan Februari 2025, pemerintah menerapkan kebijakan diskon tarif listrik yang menekan IHK pada periode tersebut. Kebijakan itu menyebabkan inflasi pada Januari dan Februari 2025 menjadi sangat rendah, bahkan mengalami deflasi.

‎"Nah penurunan IHK yang sudah tadi saya sebutkan menyebabkan level harga pada Januari 2025 berada pada pola di bawah tren normalnya," terangnya.

‎Dengan basis pembanding yang relatif rendah tersebut, penghitungan inflasi yoy pada Januari 2026 terlihat lebih tinggi, khususnya pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga.

‎"Jadi sekali lagi ya, terjadinya inflasi year on year di bulan Januari dan juga di bulan Februari nanti ya, ini terjadi karena ada low base effect akibat dari tadi kebijakan diskon talik listrik yang diimplementasikan pada bulan Januari dan Februari di tahun 2025 yang lalu," Ateng mengakhiri.