Periskop.id - Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal menilai, pengendalian inflasi menjelang Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah harus menempatkan perhatian khusus pada komoditas pangan non-beras. Terutama hortikultura seperti bawang dan cabai.
Menurutnya, kedua komoditas ini hampir selalu mengalami lonjakan harga pada periode musiman tersebut dan menjadi penyumbang inflasi terbesar. “Maka perlu dilakukan pemantauan dari jalur distribusi, operasi pasar dan memantau dari sisi harga,” tuturnya seperti dilansir Antara, Senin (2/2).
Selain itu, ia mengatakan, peran Bulog juga harus diperkuat pada momen-momen ini. Ia menyebut, Bulog tidak hanya berfungsi menjaga stabilitas harga beras, tetapi juga bisa berperan dalam menjaga pasokan pangan lain yang rawan inflasi.
Faisal pun menjelaskan pola musiman inflasi yang terjadi awal tahun ini. Pada Januari 2026, inflasi melemah setelah momentum Natal dan Tahun Baru, bahkan tercatat deflasi sebesar 0,15% dibandingkan Desember 2025.
Namun, memasuki Februari yang bertepatan dengan Imlek dan menjelang Ramadan, potensi inflasi kembali meningkat. “Setelah deflasi Januari, kemungkinan besar inflasi akan kembali naik di Februari dan Maret, dengan puncaknya pada Lebaran,” ucap dia.
Sementara itu, untuk komoditas beras, ia menjelaskan panen raya yang diperkirakan terjadi pada Februari hingga April, akan menambah ketersediaan beras, sehingga dapat membantu meredam tekanan inflasi.
Namun, komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang, menurut dia, tetap harus menjadi perhatian. Ini karena biasanya dua komoditas tersebut, harganya melonjak pada periode puasa hingga Lebaran.
Badan Pusat Statistik (BPS) pada Senin melaporkan, pada Januari 2026 terjadi deflasi sebesar 0,15% secara bulanan (month-to-month/mtm). Namun, secara tahunan (year-on-year/yoy) masih terjadi inflasi sebesar 3,55%.
Deflasi Januari 2026 terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan andil deflasi 0,30%. Komoditas utama penyumbang deflasi pada kelompok tersebut antara lain cabai merah, cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, dan telur ayam ras.
Sementara itu, penyumbang utama inflasi secara tahunan berasal dari kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga dengan andil inflasi 1,72%.
Perlancar Distribusi
Terpisah, Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti mengatakan, kenaikan harga bahan pangan saat Ramadan dan Lebaran dapat diredam dengan memperlancar distribusi dan meningkatkan supply (suplai).
“Jika ingin meredam kenaikan harga bahan pangan maka harus melakukan upaya memperlancar distribusi bahan pangan dari hulu sampai konsumen, (serta) meningkatkan supply bahan pangan melalui peningkatan produksi dan operasi pasar,” ucapnya.
Biasanya, kata Esther, harga pangan disebut mengalami kenaikan menjelang Ramadan dan Lebaran karena dua faktor. Pertama ialah kenaikan permintaan barang menjelang puasa dan hari raya untuk konsumsi masyarakat.
Kedua, supply bahan pangan cenderung relatif stabil dari waktu ke waktu karena kapasitas produksi bahan pangan domestik biasanya konstan. Dalam menyikapi keadaan tersebut, dia menilai Harga Eceran Tertinggi (HET) seharusnya disesuaikan secara berkala dan mengikuti berbagai faktor,
Termasuk variasi musiman di momen-momen tertentu seperti Ramadhan, Lebaran, Natal, dan l hari besar lain. “Kebijakan stabilitas pangan kerap reaktif karena pemerintah biasanya jika menerapkan ceiling price (HET) tidak dipatuhi pedagang bahan pangan, karena biasanya HET di bawah harga pasar, sehingga biasanya direspons dengan menghilangnya bahan pangan di pasar,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Esther berpendapat kenaikan harga bahan pangan akan menurunkan daya beli masyarakat berpendapatan rendah. Apalagi, lanjutnya, sekitar 40-50% pendapatan mereka dialokasikan untuk membeli bahan pangan
Suplai yang kurang di pasar, kenaikan permintaan oleh pasar, dan faktor musiman dianggap menjadi beberapa penyebab gejolak bahan pangan. Menurutnya, hingga saat ini inflasi didominasi dari bahan pangan dan transportasi, tetapi masih terkendali sampai sekarang.
Ke depan, Esther mewanti-wanti tiga faktor yang harus diwaspadai. Antara lain, peningkatan konflik geopolitik mengakibatkan kenaikan harga energi dan komoditas pangan impor (seperti gandum, kedelai, dan bawah putih). Lalu, lonjakan permintaan karena program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta kondisi cuaca mengakibatkan gagal panen, dan suplai pangan di pasar berkurang.
Karena itu, tindakan preventif yang dinyatakan dapat dilakukan adalah menjaga pasokan pangan, dengan mendorong program swasembada pangan dan energi. Berikutnya, melancarkan distribusi barang dan menekan biaya logistik dengan memperbaiki infrastruktur dan memberi subsidi.
Adapun tindakan terakhir adalah evaluasi program MBG, yang dinilai sebaiknya hanya untuk daerah dengan jumlah warga stunting yang tinggi.
Mitigasi Bencana Daerah Pemasok
Sementara itu, Ekonom yang juga Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menekankan pentingnya pengendalian inflasi jelang Ramadan dan Lebaran tidak hanya bergantung pada pasokan pangan. Tetapi juga pada kesiapan mitigasi bencana di daerah pemasok.
Bhima mengatakan, hujan ekstrem, banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah berpotensi mengganggu distribusi bahan pokok di tengah potensi meningkatnya permintaan jelang Ramadan dan Lebaran.
“Early warning system di tingkat pemerintah daerah harus disiapsiagakan. Begitu ada kekurangan pasokan langsung ditutup oleh daerah yang sedang panen,” jelasnya.
Selain itu, menurut Bhima, lonjakan anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang naik hampir lima kali lipat dibanding tahun 2025 juga harus diatur dengan hati-hati. Ia mengingatkan agar MBG tidak menyedot pasokan pangan dari pasar tradisional, terutama pada periode Ramadan dan Lebaran ketika permintaan masyarakat meningkat.
“Perlu ada pengurangan anggaran untuk MBG terutama saat Ramadan dan Lebaran,” tandasnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar