Periskop.id - Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengungkapkan rencana ekspor beras tahun ini, kemungkinan menargetkan negara-negara tetangga Indonesia dan negara-negara yang membutuhkan.
"Kita sudah siapkan. Kalau masalah ekspor itu perdagangan, bukan Bulog langsung. Tapi kita targetnya adalah negara tetangga dulu, negara-negara tetangga kemudian negara-negara yang membutuhkan," ujar Rizal di Jakarta, Senin (12/1)
Menurut dia, negara-negara yang membutuhkan, contohnya seperti bantuan ke Palestina, bantuan-bantuan ke daerah-daerah konflik. Ia menegaskan, ekspor beras tersebut baru rencana, belum dilaksanakan. "Ini belum dilaksanakan, ini baru disiapkan barangnya," kata Rizal.
Sebagai informasi, Rizal menegaskan kesiapan pihaknya dalam menghadapi ekspor beras tahun ini dengan menyiapkan 1 juta ton beras premium, usai Indonesia mencapai swasembada komoditas pangan tersebut.
Rizal menyampaikan rencana ekspor satu juta ton beras premium itu juga menjadi agenda utama pembahasan Bulog dalam rapat kerja internal. Hal ini dibutuhkan guna mematangkan strategi pelaksanaan secara menyeluruh.
Meski begitu, ia menuturkan kebijakan ekspor tersebut tetap diselaraskan dengan komitmen pemerintah menjaga ketahanan pangan nasional. Dengan begitu, kebutuhan dalam negeri tetap terpenuhi, seiring target berlanjutnya swasembada pangan pada tahun mendatang sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
Rizal menegaskan, rencana ekspor beras tidak akan mengganggu ketersediaan pasokan dalam negeri karena stok Bulog yang ada saat ini sekitar 3,25 juta ton.
Ia pun mengutarakan harapannya agar kesiapan ekspor itu memperkuat peran Bulog dalam menjaga stabilitas pangan nasional. Termasuk juga meningkatkan kontribusi Indonesia sebagai negara swasembada yang mampu memasok pangan ke luar negeri secara konsisten dan berkelanjutan.
Tonggak Sejarah
Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan, Indonesia hampir pasti siap mengekspor beras tahun ini setelah swasembada tercapai dan penyerapan oleh Perum Bulog dipastikan aman.
"Beras kalau bisa... izin Bapak Presiden (Prabowo Subianto) yang penting Bulog, izinnya dan serapannya tiga bulan ke depan, sama saja 2025, aku tidak minta lebih, itu ekspor hampir pasti kita lakukan tahun ini," kata Amran pada Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan oleh Presiden Prabowo di Karawang, Jawa Barat, Rabu (7/1).
Dia menegaskan, ekspor beras akan menjadi tonggak sejarah baru Indonesia. lengkah ini diambil menyusul stabilnya pasokan nasional dan keberhasilan pengelolaan cadangan pangan strategis di tengah peningkatan produksi petani dalam negeri.
Di sisi lain Badan Pangan Nasional menyatakan, Indonesia telah swasembada beras. Hal ini ditandai stok awal 2026 mencapai 12,529 juta ton atau meningkat 203% dalam dua tahun terakhir, sebagai bentuk kemandirian pangan melalui produksi petani dalam negeri.
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa menyebutkan, stok awal tahun 2026 mencapai 12,529 juta ton. Jumlah tersebut sudah termasuk stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog sebesar 3,2 juta ton lebih.
Selain itu, stok beras nasional itu tersebar di tingkat rumah tangga produsen dan konsumen, penggilingan, pedagang, dan horeka (hotel, restoran, katering).
Capaian 12,529 juta ton stok beras di awal tahun 2026 ini meningkat pesat dalam 2 tahun terakhir. Tercatat ada peningkatan hingga 203,05% terhadap stok awal tahun 2024 yang kala itu berada di angka 4,134 juta ton.
Sementara terhadap stok awal tahun 2025 telah meningkat 49,12% karena stok awal 2025 berada di 8,402 juta ton. Dengan stok beras di awal tahun 2026 sebesar 12,529 juta ton, dikalkulasikan dapat memenuhi hampir 5 bulan lamanya di tahun ini. Proyeksi itu selaras dengan asumsi kebutuhan konsumsi beras bulanan secara nasional di angka 2,591 juta ton.
Tinggalkan Komentar
Komentar