periskop.id - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan sore ini, Senin (12/1). Rupiah terkoreksi 36 poin ke level Rp16.855 per dolar AS, setelah sempat melemah hingga 50 poin dari penutupan sebelumnya di Rp16.819.
Untuk perdagangan besok, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun tetap ditutup melemah di kisaran Rp16.850-Rp16.890. Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah hari ini tidak lepas dari kombinasi faktor eksternal dan internal.
“Rupiah ditutup melemah 36 poin ke level Rp16.855, dan besok (13/1) diperkirakan bergerak fluktuatif namun tetap melemah di rentang Rp16.850–Rp16.890,” ujar Ibrahim, Senin (12/1).
Dari eksternal, pasar mencermati gejolak di Iran yang menewaskan lebih dari 500 orang, serta ancaman Teheran terhadap pangkalan militer AS jika Donald Trump turun tangan. Trump menegaskan militer sedang mempertimbangkan opsi kuat, memicu kekhawatiran konflik regional.
Selain itu, ketidakpastian politik di Washington menekan pasar setelah Departemen Kehakiman mengancam Federal Reserve dengan dakwaan pidana. Ketua Fed Jerome Powell mengaku menerima panggilan pengadilan, memunculkan kembali isu independensi bank sentral.
Data ketenagakerjaan AS juga memengaruhi pasar. Non-pertanian hanya bertambah 50.000 pekerjaan pada Desember, di bawah ekspektasi 66.000, sementara pengangguran turun tipis ke 4,4%. Kondisi ini memperkuat spekulasi pelonggaran kebijakan moneter.
“Data pekerjaan yang lebih lemah memperkuat tanda-tanda pendinginan pasar tenaga kerja dan memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve mungkin akan melonggarkan kebijakan moneter lebih lanjut pada tahun 2026,” kata Ibrahim.
Dari dalam negeri, BI mencatat penjualan eceran tumbuh 1,5% MtM pada November 2025, lebih tinggi dari bulan sebelumnya. Mayoritas kelompok mencatat kenaikan, terutama peralatan informasi, suku cadang, bahan bakar, serta makanan dan minuman.
Tinggalkan Komentar
Komentar