Periskop.id - Jakarta bukan sekadar pusat perputaran uang di Indonesia, tetapi juga rumah bagi jutaan pemuda Muslim yang sangat dinamis. Namun, di balik gaya hidup perkotaan yang cepat, tingkat kesadaran finansial untuk perencanaan ibadah haji di kalangan anak muda ini ternyata masih tergolong rendah.
Banyak yang merasa bahwa haji adalah urusan masa tua, padahal antrean keberangkatan yang semakin panjang menuntut persiapan yang jauh lebih awal. Sebuah riset mendalam berjudul Intention to Save For Hajj Travel Expenses: Perspectives of Urban Muslim Youth yang terbit pada 2025 mencoba mengupas fenomena ini.
Penelitian ini menggunakan metode analisis statistik PLS SEM terhadap 108 pemuda Muslim di Jakarta untuk memahami apa saja faktor yang membuat mereka tergerak merencanakan biaya haji. Hasilnya menunjukkan sebuah temuan yang sangat relevan dengan karakter generasi masa kini yang mandiri dan logis.
Faktor Penentu
Penelitian ini menyoroti tiga faktor utama dalam pengambilan keputusan, yaitu sikap pribadi, pengaruh orang sekitar atau norma subjektif, dan persepsi kontrol perilaku atau rasa mampu.
Temuan besarnya menunjukkan bahwa yang paling berpengaruh membuat seseorang ingin menabung haji adalah rasa mampu dan sikap pribadi yang positif.
Sikap positif di sini diartikan sebagai keyakinan individu bahwa menabung haji adalah hal yang penting dan bermanfaat bagi masa depan mereka.
Sementara itu, persepsi kontrol perilaku berkaitan dengan sejauh mana seseorang merasa memiliki kendali atas uang, peluang, dan sumber daya yang ada untuk mulai menyisihkan tabungan. Semakin besar rasa mampu dan kendali yang dirasakan seorang pemuda, maka semakin tinggi pula niat mereka untuk menabung.
Ada temuan unik mengenai pengaruh orang sekitar seperti keluarga, teman, maupun lingkungan sosial. Ternyata, norma subjektif atau tekanan sosial ini tidak berpengaruh secara signifikan terhadap niat menabung secara langsung.
Artinya, seorang anak muda tidak akan langsung menabung hanya karena disuruh orang tua atau ikut ikutan teman. Pendapat orang lain cenderung bekerja secara tidak langsung. Lingkungan sekitar berperan dalam membentuk cara pandang atau sikap positif terlebih dahulu. Setelah sikap positif itu terbentuk di dalam pikiran si pemuda, barulah niat menabung muncul.
Hal ini menegaskan bahwa anak muda Jakarta atau pemuda Muslim di kota-kota besar cenderung tidak mempan dengan tekanan sosial saja jika mereka sendiri belum yakin bahwa hal tersebut penting. Selain itu, ada kemungkinan faktor lain seperti tingkat religiositas atau literasi keuangan yang juga ikut memengaruhi keputusan mereka.
Tantangan Bagi Institusi Terkait
Penelitian ini memberikan wawasan baru melalui analisis mediasi. Sikap terhadap perencanaan keuangan terbukti menjadi jembatan yang kuat bagi pengaruh orang lain dan rasa mampu menuju niat menabung. Lebih lanjut, rasa mampu atau persepsi kontrol perilaku juga bertindak sebagai moderator.
Bagi mereka yang merasa sangat mampu secara finansial, mereka cenderung mendasarkan niat pada keyakinan pribadi daripada mengikuti omongan orang lain. Sebaliknya, pengaruh lingkungan baru akan terasa kuat ketika seseorang merasa kurang memiliki kendali atas keuangannya.
Hal ini menjadi catatan penting bagi instansi terkait bahwa edukasi finansial jauh lebih efektif daripada sekadar imbauan moral. Generasi muda Muslim, khususnya di perkotaan, saat ini sudah sangat akrab dengan konsep perencanaan keuangan.
Oleh karena itu, BPKH, perbankan syariah, Kementerian Agama, serta Kementerian Haji dan Umrah perlu melakukan upaya proaktif untuk menyosialisasikan produk tabungan haji dengan cara yang lebih modern. Calon jemaah muda mengharapkan adanya kepastian di tengah masa tunggu haji yang sangat panjang.
Salah satu pesan yang perlu diperkuat adalah bahwa ibadah haji bisa dipersiapkan sejak usia sangat muda. Berdasarkan Fatwa MUI Nomor 002 tahun 2020, pendaftaran haji diperbolehkan sejak lahir hingga balig.
Namun secara administratif, Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 29 Tahun 2015 menetapkan batas usia minimal pendaftaran haji adalah 12 tahun. Dengan memulai sejak dini, peluang untuk berangkat di usia produktif akan semakin terbuka lebar.
Tinggalkan Komentar
Komentar