periskop.id – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menyatakan satu unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memerlukan pasokan bahan pangan dalam jumlah besar, mencapai 5 ton beras per bulan serta ribuan butir telur dan hasil panen kebun untuk operasional harian.

“Satu SPPG memang membutuhkan banyak kebutuhan, seperti contohnya membutuhkan 5 ton beras per bulan satu SPPG. Membutuhkan 1,5 hektare luas panen pisang. Kemudian membutuhkan 4 ribu ayam telur di setiap SPPG,” kata Dadan dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi IX DPR RI di Jakarta, Selasa (20/1).

Dadan menyebut volume kebutuhan logistik ini menjadikan rantai pasok sebagai tantangan utama sekaligus peluang pasar. Setiap dapur umum harus memastikan aliran bahan baku stabil untuk melayani ribuan penerima manfaat setiap harinya.

Besarnya permintaan ini membuka potensi kemitraan strategis bagi penyedia bahan pangan lokal. Dadan mendorong pelibatan petani, peternak, dan pelaku usaha di daerah sekitar dapur umum untuk mengisi pos rantai pasok tersebut.

“Saya kira ini juga potensi yang besar untuk bermitra dengan seluruh anggota Komisi IX yang memiliki konstituen di daerahnya,” ujarnya.

BGN mencatat saat ini sudah ada 61.857 pemasok yang terlibat dalam ekosistem makan bergizi di seluruh Indonesia. Komposisi terbesar berasal dari sektor UMKM sebanyak 26.899 unit dan pemasok perorangan sebanyak 26.713 orang.

Selain itu, pasokan bahan baku juga datang dari 7.098 koperasi yang aktif bermitra. Sumber lain mencakup 806 Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) serta 82 BUMDes Bersama (BUMDesma).

Kebutuhan komoditas pangan ini dipastikan akan terus meningkat drastis. Hal ini sejalan dengan target BGN untuk membangun 28.000 unit SPPG di wilayah aglomerasi dan 8.617 unit di daerah terpencil pada tahun 2026.