periskop.id - Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono membantah rumor yang beredar mengenai kemungkinan dirinya dicalonkan sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) setelah masa jabatan Gubernur BI Perry Warjiyo berakhir pada 2027.
"Jadi, urusan soal Gubernur Bank Indonesia segala macem, itu nggak ada," kata Thomas kepada media, Jakarta, Rabu (28/1).
Thomas saat ini merupakan Deputi Bank Indonesia terpilih dan sudah disahkan langsung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada hari Selasa (27/1) setelah menjalani uji layak dan kepatutat (fit and proper).
Sebagai informasi, Thomas Aquinas Muliatna Djiwandono lahir di Jakarta pada 7 Mei 1972. Ia merupakan putra dari pasangan Soedradjad Djiwandono dan Biantiningsih Miderawati. Kiprahnya di bidang keuangan tidak terlepas dari latar belakang keluarganya yang memiliki hubungan kuat dengan dunia ekonomi dan perbankan.
Ayahnya dikenal sebagai mantan Gubernur Bank Indonesia yang menjabat pada periode 1993–1998. Thomas juga merupakan keponakan Presiden RI Prabowo Subianto, karena sang ibu adalah kakak kandung Prabowo. Selain itu, ia juga cicit dari R.M. Margono Djojohadikusumo, pendiri Bank BNI 46. Lalu, adiknya, Budisatrio Djiwandono, menjabat sebagai anggota Komisi IV DPR RI.
Ia menempuh pendidikan menengah di SMP Kanisius, Menteng, Jakarta. Setelah menyelesaikan pendidikan tersebut, ia melanjutkan pendidikan tinggi ke Amerika Serikat. Ia meraih gelar sarjana dari Haverford College, Pennsylvania, dengan mengambil jurusan Sejarah.
Selanjutnya, Thomas melanjutkan pendidikan pascasarjana di Johns Hopkins University, School of Advanced International Studies (SAIS), Washington, Amerika Serikat. Di perguruan tinggi tersebut, ia menyelesaikan studi magister dengan fokus pada hubungan internasional dan ekonomi internasional.
Thomas memulai perjalanan kariernya sebagai wartawan magang di Majalah Tempo pada 1993. Setahun kemudian, ia melanjutkan karier jurnalistik sebagai reporter di Indonesia Business Weekly. Pada 1996 hingga 1999, ia beralih ke dunia keuangan dengan bekerja sebagai analis di NatWest Markets Jakarta. Setelah itu, pada periode 1999–2000, ia berkarier sebagai konsultan di Castle Asia.
Tinggalkan Komentar
Komentar