periskop.id - Wakil Menteri Keuangan sekaligus Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) terpilih, Thomas Djiwandono, mengungkapkan bahwa kebijakan burden sharing menjadi salah satu fokus awal yang akan ia evaluasi setelah resmi menjabat sebagai Deputi Gubernur BI. 

‎Menurutnya, skema tersebut sudah tidak lagi sepenuhnya relevan dengan kondisi perekonomian Indonesia saat ini, terutama ketika pemerintah dan bank sentral ingin mendorong pertumbuhan ekonomi.

‎Thomas menjelaskan bahwa burden sharing merupakan kebijakan yang lahir pada masa pandemi Covid-19 untuk merespons tekanan ekonomi yang luar biasa saat itu. Secara teknis, kebijakan tersebut lebih tepat disebut sebagai cost sharing antara otoritas fiskal dan moneter.

‎"Burden sharing yang kita kenal adalah suatu produk dari masa pandemi. ‎Kalau mau dilihat dari teknisnya itu cost sharing sebetulnya. Yang saya tekankan di fit and proper saya adalah dari sinergi fiskal monitor dari segi bagaimana kita mengelola transmisi," kata Thomas kepada media, di Jakarta, dikutip Kamis (29/1). 

‎Ia menekankan bahwa fokus kebijakan ke depan seharusnya bergeser pada penguatan sinergi fiskal dan moneter, khususnya dalam memastikan transmisi kebijakan berjalan efektif ke sektor perbankan dan perekonomian riil.

Thomas menyoroti bahwa tren suku bunga acuan BI selama ini telah mengalami penurunan. Namun, penurunan tersebut belum sepenuhnya tertransmisikan ke suku bunga perbankan, sehingga masih terdapat jeda (lag) yang perlu dibenahi.

‎"Namun masih ada lag penurunan suku bunga lainnya. Kira-kira begitu. Setiap kebijakan itu kita coba menjawab atau sebagai pemangku kebijakan kita coba merangkum suatu kebijakan berdasarkan keperluan saat itu," terang Thomas. 

‎Dia menegaskan setiap kebijakan harus dirumuskan berdasarkan kebutuhan pada masanya. Menurut Thomas, kondisi ekonomi saat ini sudah sangat berbeda dibandingkan periode pandemi.

‎"Saat ini berbeda dengan pandemi. Saat ini semua bicara pertumbuhan ekonomi. Karena fundamental kita kuat. Inflasi kita rendah. Surplus perdagangan kita baik. Bahkan defisit kita tetra manageable," jelasnya. 

‎Dengan kondisi fundamental tersebut, Thomas menilai ruang ekspansi kebijakan masih terbuka lebar. Oleh karena itu, pendekatan sinergi fiskal dan moneter yang digunakan ke depan tidak lagi bertumpu pada konsep lama seperti burden sharing, melainkan pada penguatan efektivitas transmisi kebijakan.

‎"Mungkin ini untuk umum memang rada teknis. Ini kan urusan suku bunga diperbankan dan sebagainya. Silahkan lah nanti apa didalami dan sebagainya. ‎Jadi saya menekankan kebijakan yang berbeda dari masa pandemi. Itu adalah substansinya. Jadi itu burden sharing," Thomas mengakhiri.