Periskop.id - Tingkat pembangunan ekonomi sebuah bangsa tidak bisa hanya dilihat dari angka pertumbuhan nasional semata. Faktanya, kemajuan ekonomi sering kali tidak merata, menciptakan variasi yang tajam antarwilayah di dalam satu negara itu sendiri.
Melansir Visual Capitalist, fenomena ini menjadi sorotan utama dalam laporan Sustainable Trade Index (STI) 2025 yang disusun oleh Hinrich Foundation bekerja sama dengan IMD World Competitiveness Center.
Salah satu fokus utama dalam laporan tersebut adalah Uneven Economic Development Indicator atau Indikator Ketimpangan Pembangunan Ekonomi.
Ukuran ini sangat krusial karena menilai ketimpangan struktural maupun persepsi antar kelompok masyarakat. Fokus utamanya adalah melihat peluang relatif setiap kelompok dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi mereka.
Mengenal Indikator Ketimpangan Pembangunan Ekonomi
Indikator ini merupakan bagian integral dari sub-indikator kategori ekonomi pada Fragile States Index yang dikembangkan oleh Fund for Peace.
Dalam proses penilaiannya, indikator ini tidak sekadar melihat angka statistik kasar, melainkan mencakup tiga dimensi utama yang saling berkaitan erat.
Dimensi pertama adalah kesetaraan ekonomi yang menakar seberapa merata distribusi pendapatan di seluruh lapisan masyarakat.
Selanjutnya, dimensi kedua berfokus pada akses terhadap peluang, yaitu mengukur tingkat kemudahan masyarakat dalam menjangkau fasilitas pendidikan, lapangan pekerjaan, hingga akses permodalan.
Terakhir, penilaian ini juga menyoroti dinamika sosial ekonomi yang memantau bagaimana mobilitas kelas sosial terjadi di dalam suatu negara, sehingga dapat memberikan gambaran utuh mengenai inklusivitas dan ketahanan struktur ekonomi bangsa tersebut.
Negara yang mampu menciptakan pembangunan lebih seimbang dan inklusif akan memiliki skor ketimpangan yang lebih rendah. Hal ini mencerminkan stabilitas nasional dan ketahanan ekonomi yang jauh lebih baik dalam menghadapi guncangan global.
Negara dengan Pembangunan Ekonomi Paling Seimbang
Kanada, Selandia Baru, dan Australia tercatat sebagai pemimpin global dalam hal pemerataan ekonomi.
Ketiga negara ini memiliki kinerja yang sangat kuat berkat dukungan sistem jaring pengaman sosial yang kokoh, tingkat pembangunan manusia yang tinggi, serta kebijakan fiskal yang dirancang khusus untuk mendistribusikan kekayaan secara lebih adil.
Berikut adalah daftar peringkat negara dengan pembangunan ekonomi paling seimbang menurut STI 2025:
| Peringkat | Negara | Skor Ketimpangan Pembangunan Ekonomi | Indeks Ketimpangan |
|---|---|---|---|
| 1 | Kanada | 100,0 | 2,5 |
| 2 | Selandia Baru | 94,4 | 2,8 |
| 3 | Australia | 92,6 | 2,9 |
| 4 | Korea Selatan | 88,9 | 3,1 |
| 5 | Jpan | 87,0 | 3,2 |
| 6 | Inggris | 79,6 | 3,6 |
| 6 | Vietnam | 79,6 | 3,6 |
| 8 | Malaysia | 75,9 | 3,8 |
| 9 | Singapura | 74,1 | 3,9 |
| 9 | Amerika Serikat | 74,1 | 3,9 |
| 12 | Indonesia | 68,5 | 4,2 |
Posisi Relatif Indonesia: Tantangan di Tengah Pertumbuhan
Indonesia berada di peringkat ke-12 dengan skor 68,5 dan indeks ketimpangan sebesar 4,2. Posisi ini menunjukkan bahwa meskipun Indonesia merupakan kekuatan ekonomi besar di Asia Tenggara, tantangan distribusi kesejahteraan masih sangat nyata.
Secara kredibel, posisi Indonesia ini mencerminkan kondisi "ketimpangan spasial" yang sering dibahas oleh lembaga seperti Bank Dunia dan Badan Pusat Statistik (BPS).
Konsentrasi ekonomi Indonesia masih sangat berpusat di Pulau Jawa (Jawa-sentris), yang menyumbang sekitar 56,93% terhadap ekonomi nasional pada 2025.
Meskipun pemerintah telah mendorong proyek strategis nasional di luar Jawa, akses terhadap infrastruktur digital, kualitas pendidikan, dan layanan kesehatan di wilayah Indonesia Timur masih memiliki jarak yang cukup lebar dibandingkan wilayah Barat.
Hal inilah yang menyebabkan indeks ketimpangan Indonesia berada di angka 4,2, yang berarti masih ada ruang besar untuk perbaikan dalam memberikan peluang ekonomi yang sama rata bagi seluruh rakyat dari Sabang sampai Merauke.
Jika dibandingkan dengan tetangga serumpun seperti Malaysia (peringkat 8 dengan skor 75,9) atau Vietnam (peringkat 6 dengan skor 79,6), Indonesia perlu bekerja ekstra keras dalam mengintegrasikan pembangunan wilayah pelosok ke dalam rantai pasok ekonomi nasional yang lebih inklusif.
Tinggalkan Komentar
Komentar