Periskop.id - Pasar energi dunia saat ini berada dalam kondisi yang sangat terkonsentrasi. Berdasarkan data U.S. Energy Information Administration (EIA) per 9 Maret 2026 yang dihimpun oleh Visual Capitalist, hanya lima negara yang bertanggung jawab atas separuh dari total produksi minyak dunia sepanjang tahun 2025.

Data yang mencakup produksi minyak mentah dan kondensat (lease condensate) selama periode Januari hingga November 2025 ini menunjukkan bahwa pengaruh geopolitik terhadap ekonomi global sangat bergantung pada segelintir produsen utama. Konsentrasi ini memicu kerentanan tinggi, terutama saat terjadi konflik di wilayah strategis.

Tiga Raksasa Penguasa Pasar

Amerika Serikat mengukuhkan posisinya sebagai produsen minyak mentah dan kondensat terbesar di dunia. Dengan angka produksi mencapai 13,58 juta barel per hari (mb/d), AS melampaui produksi Rusia dan Arab Saudi.

Jika digabungkan, "Tiga Besar" ini menyumbang hampir 40% dari seluruh pasokan minyak global. Fenomena ini menciptakan jurang yang lebar dengan negara produsen lainnya. 

Sebagai perbandingan, produksi Amerika Serikat sendiri hampir menyamai gabungan produksi tiga negara besar lainnya, yaitu Kanada, Irak, dan China.

Perang Iran dan Ancaman Krisis Energi di Selat Hormuz

Meskipun AS memimpin secara individu, Timur Tengah tetap menjadi blok kawasan penghasil minyak terbesar dengan kontribusi 32% terhadap total produksi dunia. Masuknya Arab Saudi, Irak, Iran, Uni Emirat Arab, dan Kuwait dalam daftar 10 besar menegaskan peran vital kawasan ini bagi keseimbangan energi global.

Namun, pecahnya perang di Iran pada tahun 2026 telah mengubah peta perdagangan energi. Konflik ini menyebabkan kerusakan pada banyak fasilitas produksi di Timur Tengah. Bahkan jika peperangan berakhir dalam waktu dekat, pemulihan pasokan diprediksi akan memakan waktu lama karena kebutuhan investasi ulang yang masif.

Selain itu, ketidakpastian tinggi masih menyelimuti jalur perdagangan energi paling krusial di dunia, yaitu Selat Hormuz. Gangguan pada jalur ini secara otomatis akan memicu lonjakan harga dan krisis pasokan global karena besarnya volume minyak yang melintasi wilayah tersebut.

Posisi Indonesia

Di tengah dominasi negara-negara besar, Indonesia berada di peringkat ke-26 dunia dengan produksi rata-rata 0,58 juta barel per hari atau sekitar 0,69% dari pangsa global. Angka ini belum mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Sebagai perbandingan, konsumsi minyak Indonesia mencapai 1,3 hingga 1,6 juta barel per hari. Kesenjangan ini membuat Indonesia masih sangat bergantung pada impor.

Kondisi tersebut juga meningkatkan kerentanan terhadap gejolak global, terutama fluktuasi harga minyak akibat konflik di Timur Tengah yang menjadi tantangan bagi ketahanan energi nasional.

Meskipun Indonesia pernah menjadi anggota OPEC, saat ini posisi Indonesia lebih condong sebagai negara net-importir minyak karena konsumsi domestik yang terus meningkat melampaui kemampuan produksi nasional. 

Sebagai informasi tambahan yang kredibel, pemerintah Indonesia melalui SKK Migas terus berupaya mencapai target produksi 1 juta barel minyak per hari pada tahun 2030 melalui kegiatan eksplorasi masif dan optimalisasi sumur tua. 

Daftar Negara dengan Produksi Minyak Mentah dan Kondensat Terbesar

Secara rinci, berikut adalah 15 negara dengan produksi minyak mentah dan kondensat terbesar di dunia:

PeringkatNegaraProduksi (Juta Barel per Hari)Pangsa Produksi Global (%)
1Amerika Serikat13,5816,08
2Rusia9,8711,69
3Arab Saudi9,5111,26
4Kanada4,945,85
5Irak4,395,20
6China4,345,14
7Iran4,194,96
8Uni Emirat Arab3,824,52
9Brasil3,754,43
10Kuwait2,583,05
11Kazakhstan2,072,45
12Norwegia1,852,19
13Meksiko1,722,04
14Nigeria1,611,90
15Libya1,361,61
26Indonesia0,580,69