Periskop.id - Sepak bola dunia kembali diguncang oleh kenyataan pahit yang menimpa salah satu raksasa terbesarnya. Tim Nasional Italia secara resmi dipastikan gagal melangkah ke putaran final Piala Dunia 2026.
Kepastian ini didapat setelah tim asuhan Italia dipaksa menyerah oleh Bosnia dan Herzegovina melalui drama adu penalti pada babak playoff zona Eropa yang berlangsung hari Selasa.
Hasil ini menorehkan tinta hitam yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah sepak bola. Italia kini menyandang status sebagai negara juara dunia pertama yang harus absen dalam tiga edisi turnamen secara berturut-turut, yakni pada tahun 2018, 2022, dan kini 2026.
Padahal, sebelumnya Italia adalah langganan tetap yang tampil di setiap edisi dari tahun 1962 hingga 2014.
Drama Playoff 2026: Mimpi Buruk di Tangan Bosnia
Pertandingan penentuan melawan Bosnia dan Herzegovina berlangsung sangat intens. Italia sebenarnya sempat membuka harapan lewat gol penyerang Moise Kean pada menit ke-15 yang membawa mereka unggul 1-0.
Namun, petaka muncul tepat sebelum turun minum saat bek tengah andalan Alessandro Bastoni menerima kartu merah.
Bermain dengan 10 orang membuat Italia kewalahan di babak kedua. Pemain pengganti Bosnia, Haris Tabakovic, akhirnya menyamakan kedudukan menjadi 1-1 pada menit ke-79. Skor imbang bertahan hingga babak tambahan waktu selesai.
Dalam drama adu penalti, Italia harus mengakui keunggulan lawan dengan skor 4-1. Pemain kelahiran Wisconsin, Esmir Bajraktarevic, menjadi algojo yang menentukan kemenangan Bosnia dan Herzegovina sekaligus mengubur mimpi Italia ke Piala Dunia 2026.
Flashback Kejayaan di Piala Dunia 2006
Pahitnya kegagalan saat ini terasa sangat kontras jika menengok kembali memori indah 20 tahun silam.
Pada Final Piala Dunia 2006 di Olympiastadion, Berlin, Italia berada di puncak dunia. Kala itu, mereka mengalahkan Prancis lewat adu penalti dengan skor 5-3 setelah bermain imbang 1-1.
Lima eksekutor legendaris Italia saat itu yakni Pirlo, Materazzi, De Rossi, Del Piero, dan Grosso sukses menjalankan tugas dengan sempurna. Kegagalan penendang kedua Prancis, David Trezeguet, memastikan Italia meraih bintang keempat mereka di jersey kebanggaan.
Awal Kemerosotan pada 2010 dan 2014
Setelah merajai dunia di 2006, performa Italia mulai menunjukkan penurunan drastis. Pada Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, Italia yang datang sebagai juara bertahan justru hancur di fase grup.
Mereka menjadi juru kunci Grup F setelah ditahan imbang Paraguay dan Selandia Baru, serta kalah dramatis 2-3 dari Slovakia di laga penentuan.
Empat tahun berselang pada Piala Dunia 2014 di Brasil, nasib serupa kembali terulang. Meski sempat menang 2-1 atas Inggris di laga pembuka, Italia justru terjungkal 0-1 dari Kosta Rika dan kalah 0-1 dari Uruguay.
Hasil tersebut membuat Gli Azzurri hanya finish di peringkat ketiga grup dan gagal melaju ke babak 16 besar.
Rentetan Kegagalan Kualifikasi pada 2018 dan 2022
Era kegagalan lolos ke putaran final dimulai pada tahun 2018. Di bawah asuhan Gian Piero Ventura, Italia yang masih diperkuat Gianluigi Buffon serta trio bek tangguh Juventus yakni Chiellini, Bonucci, dan Barzagli, gagal menjadi juara Grup G yang dikuasai Spanyol.
Di babak playoff, Italia kalah agregat 0-1 dari Swedia setelah tak mampu mencetak satu gol pun dalam dua leg pertandingan.
Nasib paling tragis terjadi pada kualifikasi Piala Dunia 2022. Italia yang baru saja menyandang status sebagai juara Piala Eropa 2020 harus menelan pil pahit di babak semifinal playoff zona C.
Bermain di kandang sendiri, Stadion Renzo Barbera, tim asuhan Roberto Mancini takluk secara mengejutkan dari Makedonia Utara melalui gol tunggal Aleksandar Trajkovski di menit tambahan waktu babak kedua.
Kegagalan tersebut memastikan Italia tidak terbang ke Qatar, sementara tiket akhirnya diraih oleh Portugal setelah mengalahkan Makedonia Utara di final playoff.
Kini, dengan kegagalan menuju edisi 2026, Italia harus melakukan evaluasi total untuk mengembalikan kejayaan mereka sebagai salah satu dari hanya tiga negara yang mampu memenangkan trofi Piala Dunia sebanyak empat kali.
Tinggalkan Komentar
Komentar