periskop.id - Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas) Yusril Ihza Mahendra menyoroti bahaya disinformasi dan propaganda asing yang selama ini menyasar mentalitas bangsa Indonesia. Secara khusus, ia membantah keras label "bangsa pemalas" yang kerap disematkan kepada orang Indonesia maupun Melayu.
Yusril menceritakan pengalamannya saat menjadi dosen yang mengampu mata kuliah propaganda politik dan perang, termasuk mempelajari literatur seperti buku karya Adolf Hitler. Menurutnya, ketidaksiapan dalam menangkal propaganda dapat menghancurkan citra bangsa sendiri.
"Dulu kalau kita belajar antropologi selalu dibilang orang Melayu, orang Indonesia itu bangsa pemalas. Kan begitu. Dan kita bangga dibilang begitu. Siapa bilang orang Indonesia itu pemalas?" kata Yusril di Gran Melia, Rabu (22/4).
Yusril menjelaskan, realitas di lapangan menunjukkan masyarakat Indonesia sangat rajin bekerja. Ia mencontohkan bagaimana warga sudah bangun sejak subuh untuk beribadah, lalu langsung berangkat bekerja di sawah hingga malam hari.
"Kalau kurang rajin, siapa bilang bangsa kita tidak rajin kerja? Luar biasa rajinnya. Tapi persoalannya, sudah rajin begitu kenapa tetap miskin? Nah, itu persoalan lain yang harus kita pecahkan. Tidak betul kita ini bangsa pemalas," tutur Yusril.
Ia menyayangkan banyaknya stigma negatif, mulai dari istilah "Koboi Melayu" hingga plesetan "Asam Jawa", yang seolah dianggap biasa oleh masyarakat Indonesia. Padahal, menurut Yusril, itu adalah upaya sistematis untuk menjatuhkan mental bangsa.
"Padahal itu propaganda, menjatuhkan mental kita sebagai bangsa. Seolah-olah kita ciut berhadapan dengan bangsa lain, oh bangsa lain lebih hebat," lanjut Yusril.
Untuk mematahkan anggapan bangsa lain lebih hebat, Yusril membagikan pengalaman masa sekolahnya saat berada di kelas yang didominasi warga negara asing atau "bule".
"Yang goblok (orang luar negeri) juga banyak, suka bertanya kepada saya kalau mau ujian. Jadi sebenarnya tidak seperti itu, tetapi bangsa kita dilemahkan oleh disinformasi dan propaganda," ungkapnya.
Yusril menegaskan, persoalan ini menjadi perhatian serius Presiden. Ia menyatakan sependapat dengan kepala negara bahwa propaganda dan disinformasi semacam ini harus segera diatasi karena hanya menguntungkan pihak asing.
"Harus kita hadapi, harus kita atasi hal semacam itu. Karena propaganda pihak asing hanya untuk kepentingan mereka, bukan untuk kepentingan nasional bangsa kita sendiri," pungkasnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar