Periskop.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan ketidakpastian global akibat konflik geopolitik menyebabkan pasar menjadi semakin sulit diprediksi, hal ini mendorong investor untuk lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi dan menjaga likuiditas. 

Menurut Airlangga, kawasan Indo-Pasifik tetap menjadi kawasan yang aman dan menarik bagi investasi global. Pertumbuhan ekonomi ASEAN yang masih berada di atas 4 persen serta stabilitas kawasan yang didukung negara-negara seperti Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru menjadi modal penting dalam menjaga kepercayaan investor. 

Di tengah ketidakpastian global, berbagai kawasan ekonomi khusus di Indonesia juga menunjukkan kinerja positif dengan tingkat keterisian yang tinggi dan bahkan mendorong rencana ekspansi di sejumlah lokasi sebagai bagian dari realignment rantai pasok global.

Pemerintah, katanya, juga terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui koordinasi yang erat antara kebijakan fiskal dan moneter. Ia menjelaskan bahwa langkah Bank Indonesia dalam menjaga daya tarik instrumen rupiah diharapkan dapat mengurangi tekanan arus modal keluar (capital outflow), yang selanjutnya perlu didukung dengan masuknya investasi-investasi berkualitas.

“Kerjasama antara fiskal moneter ini sudah sangat baik. Karena kami juga secara temporer bertemu. Dan kita memonitor dana pihak ketiga yang diperbankan, kemudian penyaluran kredit, dan juga tentu likuiditas di market ini sangat diperlukan,” kata Airlangga dalam keterangannya, Rabu (24/6).

Selain menjaga stabilitas domestik, Pemerintah juga terus memperluas akses pasar dan investasi melalui kerja sama ekonomi internasional. Proses aksesi Indonesia ke Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menjadi salah satu langkah strategis untuk meningkatkan daya saing ekonomi nasional. 

OECD merupakan kelompok ekonomi yang mencakup 38 negara dengan nilai pasar mencapai sekitar US$64 triliun. Keanggotaan OECD diharapkan dapat memperkuat kualitas regulasi nasional, meningkatkan kepercayaan investor, sekaligus memperluas akses Indonesia ke pasar global yang lebih besar.

Airlangga menerangkan dalam lanskap ekonomi dunia yang semakin berbentuk multi-blok, Indonesia juga terus memperluas kerja sama ekonomi melalui berbagai forum strategis, termasuk Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership

(CPTPP) dan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement

(IEU-CEPA). 

Khusus untuk IEU-CEPA, perjanjian tersebut akan membuka akses yang lebih kompetitif bagi produk manufaktur Indonesia ke pasar Uni Eropa yang memiliki Produk Domestik Bruto sekitar USD21 triliun dengan jumlah penduduk mencapai 723 juta jiwa. 

"Implementasi penuh IEU-CEPA nantinya akan menghapus tarif masuk berbagai produk Indonesia ke pasar Eropa yang saat ini masih berada pada kisaran 10 hingga 20 persen," tutup Airlangga.