Periskop.id - Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah mengungkapkan harga sejumlah barang, terutama produk impor, sudah naik 5% hingga 10%. Kenaikan itu dipicu pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Budihardjo menjelaskan, kenaikan harga tersebut sudah berlangsung sejak satu hingga dua bulan terakhir. Menurutnya, tren ini bukan hal baru yang muncul pada kuartal IV 2026.
"Kalau kita sudah naik dari kemarin sih, ya. Jadi sebenarnya kuartal IV-2026 kalau dolarnya turun, ya pasti kita juga akan mengikuti," kata Budihardjo saat ditemui di Kantor Kemenko Bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis (6/8).
Kenaikan harga tersebut, menurutnya, terutama berlaku untuk barang-barang impor yang terdampak langsung oleh pelemahan kurs rupiah.
"Ya 5% sampai 10%," sebut Budihardjo saat merinci besaran kenaikan harga.
Bagi Hippindo, level kurs tertentu bukan hal utama yang dibutuhkan pelaku usaha ritel. Stabilitas nilai tukar dinilai lebih penting agar perusahaan bisa menghitung harga jual dengan pasti.
"Sebenarnya dolar atau rupiah itu yang penting stabil, jangan naik-turun. Jadi kalau stabil, berapapun kita bisa menghitung harga jual. Yang kita harapkan itu kestabilan kursnya," jelas Budihardjo.
Kenaikan harga barang impor, menurutnya, memang sulit dihindari. Namun pelaku usaha berupaya menekan dampaknya lewat efisiensi dan pemanfaatan teknologi terkini.
Di sisi lain, kondisi ini turut menekan keuntungan pelaku usaha ritel. Omzet penjualan disebut masih meningkat, tapi laba perusahaan justru tergerus akibat kenaikan berbagai biaya.
"Omzet naik, tapi memang ada penurunan profit. Itu memang ada strategi untuk menaikkan penjualan dengan menekan profit. Dengan diskon-diskon itu otomatis berkurang profit kami. Ini salah satu cara untuk mempertahankan penjualan," ucap Budihardjo.
Diskon dan efisiensi, menurutnya, menjadi kiat utama menjaga volume penjualan di tengah tekanan biaya. Pelemahan rupiah turut memperberat kondisi tersebut karena pelaku usaha berusaha menahan harga jual di level konsumen.
"Karena masalah ini kan sekarang biaya dan kenaikan dolar. Rupiah melemah itu juga menggerus profit kita, karena kita berusaha untuk menstabilkan harga," pungkas Budihardjo.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar