Periskop.id – Bank Indonesia meminta pelaku pasar tidak bereaksi berlebihan setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatan Gubernur BI. Pejabat Gubernur Sementara BI Destry Damayanti memastikan arah kebijakan moneter tetap berlanjut, termasuk intervensi di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Pernyataan itu disampaikan Destry setelah mengikuti rapat koordinasi bersama Presiden Prabowo Subianto dan anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (27/7).

"Untuk market, tentunya untuk market kita berharap tidak perlu panik. Kenapa? Karena kami dari Bank Indonesia tetap akan menjalankan kebijakan kami seperti juga yang sudah kami lakukan sebelumnya," ujar Destry.

Pesan tersebut disampaikan ketika pasar keuangan bereaksi terhadap perubahan mendadak di pucuk pimpinan bank sentral. Pada perdagangan Senin, rupiah ditutup melemah 0,36 persen ke level Rp18.000 per dolar AS, sedangkan Indeks Harga Saham Gabungan turun 0,17 persen.

BI Tetap Intervensi Pasar Valuta Asing

Destry menegaskan stabilitas rupiah tetap menjadi prioritas kebijakan moneter. BI akan terus hadir melalui intervensi di pasar spot, transaksi non-deliverable forward atau NDF di luar negeri, serta domestic non-deliverable forward atau DNDF di pasar domestik.

Bank sentral juga akan mempertahankan kebijakan makroprudensial untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan penyaluran kredit. Insentif berupa penurunan biaya lindung nilai tetap dijalankan untuk menarik aliran modal asing masuk ke pasar keuangan Indonesia.

"Jadi kebijakan itu masih tetap kami lakukan dan juga di Bank Indonesia ini kepemimpinan dilakukan secara kolektif kolegial," kata Destry.

Sistem kolektif kolegial berarti keputusan strategis BI tidak hanya ditentukan oleh gubernur, tetapi dibahas dan diputuskan bersama anggota Dewan Gubernur. Mekanisme tersebut diharapkan menjaga kesinambungan kebijakan selama proses transisi kepemimpinan.

"Kita juga tentu berharap stabilitas di pasar keuangan kita akan bisa pulih dan normal kembali seperti semula," imbuhnya.

Sebelum perubahan kepemimpinan, Rapat Dewan Gubernur BI pada 21–22 Juli 2026 memutuskan mempertahankan BI Rate sebesar 5,75 persen. Suku bunga deposit facility juga tetap 4,75 persen dan lending facility sebesar 6,50 persen. Keputusan tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas rupiah dan mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.

Destry Pimpin BI untuk Sementara

Perry mengajukan pengunduran diri secara sukarela pada 25 Juli 2026 dengan alasan pribadi. Rapat Dewan Gubernur sehari kemudian menetapkan Destry, yang menjabat Deputi Gubernur Senior BI, sebagai Pejabat Gubernur Sementara.

BI menegaskan pergantian pimpinan tidak menghambat pelaksanaan tugas bank sentral dalam menjaga stabilitas rupiah, sistem pembayaran, dan sistem keuangan. Penetapan Destry dilakukan sesuai mekanisme dalam Undang-Undang Bank Indonesia.

“Bank Indonesia senantiasa memastikan keberlangsungan tugas dan wewenang untuk mencapai stabilitas nilai rupiah, memelihara stabilitas sistem pembayaran, dan turut menjaga stabilitas sistem keuangan dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, yang dapat menciptakan lingkungan ekonomi yang kondusif bagi pertumbuhan sektor riil dan penciptaan lapangan kerja sesuai dengan amanat UU BI,” kata Destry.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto juga memastikan fungsi kelembagaan BI tetap berjalan meskipun terjadi pergantian pimpinan.

“Yang penting kan institusinya. Dan institusi BI tetap menjalankan fungsi untuk menjaga nilai tukar dan menjaga kestabilan moneter,” kata Airlangga.

Menurut Airlangga, koordinasi antara otoritas fiskal dan moneter terus dilakukan secara berkala. Pemerintah belum menyampaikan nama calon Gubernur BI definitif yang akan menggantikan Perry.

Transisi dan Independensi BI Jadi Perhatian Pasar

Ekonom Center of Reform on Economics Yusuf Rendy Manilet menilai dampak pengunduran diri Perry terhadap rupiah dapat bersifat terbatas sepanjang transisi berlangsung tertib dan independensi bank sentral tetap terjaga.

“Justru, momentum ini akan menjadi ujian bagi institusi BI. Pasar akan menilai apakah proses transisi kepemimpinan berlangsung mulus tanpa mengganggu independensi, kredibilitas, maupun konsistensi kebijakan moneter. Apabila hal tersebut dapat dipertahankan, dampak pengunduran diri Gubernur BI terhadap pasar keuangan dan nilai tukar rupiah diperkirakan hanya bersifat sementara,” ujar Yusuf.

Rapat KSSK bersama Presiden menjadi bagian dari upaya menjaga koordinasi antarlembaga setelah pengunduran diri Perry. Forum tersebut melibatkan unsur Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan pemerintah telah menerima surat pengunduran diri Perry pada Minggu (26/7). Presiden menghormati keputusan tersebut dan menyampaikan penghargaan atas pengabdian Perry selama memimpin bank sentral.

Pemerintah selanjutnya akan memproses pemberhentian Perry secara hormat melalui keputusan presiden. Setelah itu, Presiden akan mengajukan calon Gubernur BI definitif untuk menjalani proses persetujuan di DPR.

Selama tahapan tersebut berlangsung, Destry bersama seluruh anggota Dewan Gubernur bertugas memastikan tidak terjadi kekosongan kendali. Kejelasan arah kebijakan, konsistensi intervensi rupiah, dan independensi bank sentral akan menjadi faktor utama dalam memulihkan kepercayaan pasar.