Periskop.id – PT Bank Pan Indonesia Tbk atau PaninBank membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp1,44 triliun sepanjang semester I 2026. Angka tersebut meningkat tipis sekitar 1 persen dibandingkan Rp1,42 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan laba terutama ditopang kenaikan pendapatan bunga bersih sebesar 6,6%, dari Rp4,39 triliun menjadi Rp4,68 triliun. Kenaikan itu terjadi meski pendapatan bunga turun, karena beban bunga menyusut lebih dalam dari Rp3,44 triliun menjadi Rp3,02 triliun.
“Peningkatan laba bersih tersebut terutama didukung oleh peningkatan pendapatan bunga bersih yang naik 6,6% menjadi Rp4,68 triliun dibanding periode yang sama tahun 2025 sebesar Rp4,39 triliun,” kata Presiden Direktur PaninBank Herwidayatmo dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (30/7).
Laba Pemilik Entitas Induk Justru Turun
Laporan keuangan publikasi PaninBank menunjukkan total laba bersih periode berjalan mencapai Rp1,438 triliun, termasuk laba yang menjadi bagian pemegang saham nonpengendali.
Adapun laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp1,363 triliun. Nilai tersebut turun sekitar 1,2 persen dari Rp1,380 triliun pada semester I 2025. Laba bersih per saham juga menurun dari Rp57,33 menjadi Rp56,64.
Kinerja laba turut terbantu oleh penurunan beban kerugian penurunan nilai aset keuangan. Beban pencadangan tersebut turun dari Rp897,45 miliar menjadi Rp666,86 miliar.
Namun, laba operasional masih turun tipis dari Rp1,82 triliun menjadi Rp1,81 triliun. Penurunan terjadi karena beban operasional selain bunga meningkat menjadi Rp2,86 triliun, di tengah melemahnya pendapatan komisi serta pendapatan lainnya.
Margin Bunga Naik, Risiko Kredit Membesar
Penurunan suku bunga sejak pertengahan 2025 memberikan ruang bagi bank untuk menekan biaya dana. Kondisi tersebut mendorong rasio margin bunga bersih atau net interest margin naik menjadi 4,55% pada Juni 2026 dari 4,23% setahun sebelumnya.
Di sisi lain, kualitas kredit menunjukkan tekanan. Rasio kredit bermasalah atau NPL bruto meningkat dari 2,81% menjadi 3,22%, sedangkan NPL bersih naik dari 0,71% menjadi 1,26%.
Meski mengalami kenaikan, rasio NPL tersebut masih berada di bawah ambang batas 5%. Namun, pergerakannya perlu diperhatikan karena menunjukkan porsi kredit bermasalah PaninBank meningkat dibandingkan tahun lalu.
Kredit Turun 3,75 Persen
Total kredit konsolidasian PaninBank tercatat sebesar Rp139,64 triliun pada akhir Juni 2026. Angka tersebut turun 3,75% dibandingkan posisi Desember 2025 yang mencapai Rp145,08 triliun.
“Pertumbuhan kredit melambat terutama terhambat kebijakan bank yang menerapkan prinsip kehati-hatian untuk menjaga kualitas portofolio kredit,” ujar Herwidayatmo.
Perseroan menyatakan semakin selektif dalam menentukan sektor, profil debitur, dan tujuan pembiayaan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pendekatan tersebut membuat PaninBank memilih menjaga kualitas aset dibandingkan mendorong ekspansi kredit secara agresif.
Kondisi itu berbeda dengan tren industri perbankan secara umum. OJK mencatat kredit perbankan nasional masih tumbuh 11,51% secara tahunan menjadi Rp8.918 triliun pada Mei 2026, sedangkan DPK tumbuh 13,49% menjadi Rp10.294 triliun. Perbandingan tersebut menggunakan basis tahunan, sementara penyusutan kredit PaninBank dihitung dari posisi akhir 2025.
DPK Turun, Porsi Dana Murah Naik
Dana pihak ketiga PaninBank turun 7,87% dari Rp156,92 triliun pada akhir 2025 menjadi Rp144,57 triliun per Juni 2026. Penurunan terjadi pada giro, tabungan, maupun deposito.
Bank menyebut penghimpunan DPK dikendalikan karena pertumbuhan kredit masih lemah. Langkah tersebut ditempuh agar bank tidak menanggung biaya dana berlebihan ketika permintaan pembiayaan belum meningkat signifikan.
Meski nominal DPK turun, komposisi dana murah atau CASA membaik. Porsi giro dan tabungan naik dari sekitar 40% pada akhir 2025 menjadi 42%pada Juni 2026.
PaninBank juga mengganti sebagian pendanaan jangka pendek dengan surat utang berjangka lebih panjang. Sepanjang semester pertama, bank menerbitkan Obligasi Berkelanjutan IV Tahap IV senilai Rp2,71 triliun, Obligasi Berkelanjutan V Tahap I sebesar Rp500 miliar, dan obligasi subordinasi sebesar Rp50 miliar. Total dana yang dihimpun melalui ketiga penerbitan tersebut mencapai sekitar Rp3,26 triliun.
Modal Tetap Tebal
Dari sisi permodalan, total ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik tercatat Rp53,33 triliun. Rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio konsolidasian naik dari 35,47% menjadi 35,93%.
CAR PaninBank jauh lebih tinggi dibandingkan rasio industri perbankan nasional yang berada di level 23,74% pada Mei 2026. Permodalan yang tebal memberikan ruang bagi perseroan untuk menyerap risiko kredit sekaligus kembali melakukan ekspansi ketika permintaan pembiayaan membaik.
Secara keseluruhan, PaninBank masih mampu mempertahankan pertumbuhan laba berkat kenaikan margin bunga dan penurunan pencadangan. Namun, penyusutan kredit dan DPK serta kenaikan rasio kredit bermasalah menjadi indikator yang perlu dicermati pada paruh kedua 2026.
Tinggalkan Komentar
Komentar