periskop.id - Harga logam mulia Antam diproyeksikan bergerak fluktuatif dengan potensi penguatan pada pekan ini. Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan, pergerakan harga dipengaruhi oleh kombinasi faktor teknikal, kenaikan harga emas dunia, serta tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Pada perdagangan terakhir, harga logam mulia domestik ditutup di Rp2.688.000 per gram. Dari level tersebut, harga masih memiliki ruang koreksi maupun peluang penguatan lanjutan.

Jika terjadi koreksi, harga logam mulia berpotensi menguji support pertama di Rp2.638.000 per gram. Apabila tekanan berlanjut, support kedua berada di Rp2.560.000 per gram. Sebaliknya, jika harga bergerak menguat, logam mulia diperkirakan menuju Rp2.700.000 per gram dan berpeluang menembus Rp2.820.000 per gram.

“Kalau mengalami penurunan, support pertama logam mulia itu di Rp2.638.000 dan support kedua di Rp2.560.000. Namun kalau menguat, logam mulia diperkirakan di Rp2.700.000 dan ada kemungkinan besar di Rp2.820.000 per gram,” ujarnya, dikutip Senin (19/1).

Ia menegaskan bahwa peluang kenaikan harga logam mulia masih terbuka lebar, terutama apabila didukung oleh penguatan harga emas dunia.

Harga emas dunia sendiri pada perdagangan terakhir ditutup di USD 4.595 per troy ounce, dengan potensi penguatan hingga USD 4.706 per troy ounce. Kenaikan harga emas dunia tersebut turut berdampak langsung terhadap harga logam mulia di dalam negeri.

Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah juga menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga logam mulia domestik. Rupiah pada perdagangan terakhir ditutup di Rp16.896 per dolar AS, dengan potensi pelemahan lanjutan hingga Rp17.100 per dolar AS dalam sepekan ke depan.

“Kenaikan logam mulia juga disebabkan oleh pelemahan mata uang rupiah. Pelemahan rupiah ini kemungkinan besar di minggu depan berada di Rp17.100 per dolar AS,” kata dia.

Ia menilai tekanan eksternal masih mendominasi pergerakan rupiah, meskipun Bank Indonesia telah melakukan berbagai upaya stabilisasi.

“Intervensi Bank Indonesia dan kebijakan pemerintah belum bisa membuat rupiah menguat tajam karena kondisi eksternal yang begitu kuat,” ujarnya.

Di sisi lain, meningkatnya pembelian emas oleh bank sentral global juga memberikan sentimen positif terhadap harga logam mulia.

“Bank sentral global kembali berlomba-lomba melakukan pembelian logam mulia karena kondisi geopolitik, perpolitikan Amerika, dan kebijakan bank sentral yang penuh ketidakpastian,” katanya.