periskop.id - Harga emas dunia diproyeksikan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menguat pada pekan ini. Pergerakan tersebut dipengaruhi oleh faktor teknikal, meningkatnya ketegangan geopolitik, kembali memanasnya perang dagang global, serta kebijakan bank sentral dunia.
Berdasarkan analisis teknikal, Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan harga emas dunia pada perdagangan terakhir ditutup di US$4.595 per troy ounce. Dari level tersebut, emas dunia masih memiliki ruang koreksi maupun peluang penguatan lanjutan.
“Jika terjadi koreksi, harga emas dunia berpotensi menguji support pertama di US$4.553 per troy ounce,” kata Ibrahim, dikutip Senin (19/1).
Apabila tekanan berlanjut, support kedua berada di US$4.489 per troy ounce. Sementara itu, apabila harga bergerak menguat, emas dunia diperkirakan menguji resistance pertama di US$4.655 per troy ounce dan berpeluang melanjutkan kenaikan hingga US$4.706 per troy ounce.
“Harga emas dunia pada perdagangan terakhir ditutup di US$4.595 per troy ounce. Kalau mengalami penurunan, support pertama itu di US$4.553 per troy ounce dan support kedua di US$4.489 per troy ounce. Sebaliknya, kalau seandainya mengalami penguatan, resistance pertama di US$4.655 per troy ounce dan resistance kedua di US$4.706 per troy ounce,” ujarnya.
Dari sisi fundamental, ketegangan global kembali meningkat. Salah satunya berasal dari perang dagang antara Uni Eropa dan Tiongkok. Uni Eropa menerapkan bea masuk antidumping terhadap produk alumina dan alumina leburan asal Tiongkok dengan tarif 88,7% hingga 110,6%, yang berpotensi dibalas oleh Tiongkok dalam waktu dekat.
Selain itu, Amerika Serikat juga berencana menerapkan tarif impor 20% terhadap Eropa, yang berkaitan dengan isu Greenland. Kebijakan tersebut diperkirakan akan terus menekan sentimen pasar global.
Dari sisi geopolitik, konflik Rusia dan Ukraina kembali memanas akibat serangan balasan Ukraina ke wilayah Rusia. Rusia diperkirakan akan melakukan serangan lanjutan terhadap Ukraina pada pekan depan. Di saat yang sama, ketegangan di Timur Tengah meningkat seiring demonstrasi besar-besaran di Iran yang menewaskan lebih dari 3.000 orang, serta penutupan wilayah udara Iran sebagai tanda siaga perang.
“Kondisi geopolitik ini, baik di Eropa maupun di Timur Tengah, membuat ketegangan global meningkat dan mendorong pelaku pasar kembali mencari aset aman seperti emas,” katanya.
Faktor lain yang turut menopang harga emas dunia adalah kebijakan bank sentral global. Sejumlah bank sentral, termasuk dari Tiongkok, India, Afrika Selatan, Amerika Latin, dan negara-negara ASEAN, tercatat meningkatkan pembelian emas secara agresif.
“Bank sentral global kembali melakukan pembelian logam mulia secara besar-besaran karena menganggap kondisi global saat ini sangat gawat, dan ini yang membuat harga emas dunia mengalami kenaikan,” ujarnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar