periskop.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tengah mempertimbangkan kemungkinan agar PT Geo Dipa Energi dapat memasok gas untuk kawasan industri. Menurutnya, harga yang ditawarkan perusahaan tersebut jauh lebih murah dibandingkan harga yang dipatok oleh PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN).

“Saya lagi mikir apakah Geo Dipa itu bisa saya perbesar, saya tarik gasnya langsung untuk memasok ke pusat, kawasan industri gitu, jadi sedang menjajaki semua,” kata Purbaya dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (24/12).

Rencana untuk memasok gas Geo Dipa ke kawasan industri muncul setelah dirinya melakukan kunjungan ke sejumlah lembaga. Antara lain seperti PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI), PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII), dan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI).

Kemudian Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN), Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), serta PT Sarana Multigriya Finansial (SMF).

“Rata-rata lumayan lah di Geo Dipa harganya, ternyata lebih murah daripada gasnya Petrogas ya. PGN itu, jadi kita lihat ternyata bisa seperti itu, mereka bisa jual di US$8, yang sana lebih tinggi, saya lihat itu saja,” tambahnya.

Sekadar informasi, Geo Dipa Energi sebagai BUMN di sektor energi panas bumi mengelola PLTP Dieng dan PLTP Patuha yang merupakan proyek strategis nasional.

Saat ini, kapasitas terpasang kedua pembangkit tersebut mencapai 120 MW, dengan rencana pengembangan hingga 500 MW untuk mendukung bauran energi bersih nasional.

Energi panas bumi memiliki keunggulan sebagai sumber energi ramah lingkungan dengan emisi karbon yang jauh lebih rendah dibandingkan pembangkit berbasis batu bara.

Data International Energy Agency (IEA) menunjukkan emisi PLTP hanya berkisar 45–80 gram CO₂ per kWh, sementara PLTU batu bara mencapai 900–1.000 gram CO₂ per kWh. Selain itu, PLTP mampu beroperasi 24 jam sepanjang tahun sebagai sumber energi baseload yang andal.