periskop.id - Ketegangan di Timur Tengah kian memanas setelah serangan drone menghantam fasilitas energi milik raksasa minyak Arab Saudi, Saudi Aramco, di kilang Ras Tanura. Insiden ini terjadi di tengah serangan balasan Iran terhadap negara-negara Teluk menyusul serangan Israel dan Amerika Serikat.

Dampaknya meluas ke seluruh kawasan. Qatar menghentikan produksi gas alam cair (LNG) pada Senin sebagai langkah pencegahan setelah fasilitas energi disasar drone. Produksi LNG Qatar setara sekitar 20% pasokan global dan menjadi penopang utama kebutuhan energi Asia dan Eropa.

Kilang Ras Tanura milik Saudi Aramco, dengan kapasitas 550.000 barel per hari, dihentikan sementara sebagai langkah antisipasi. Fasilitas ini merupakan bagian dari kompleks energi besar di pesisir Teluk Arab Saudi yang juga berfungsi sebagai terminal ekspor utama minyak mentah kerajaan tersebut.

Menurut Kementerian Pertahanan Saudi, dua drone berhasil dicegat di area fasilitas Aramco tersebut. Puing-puing drone sempat menyebabkan kebakaran kecil, namun tidak ada korban jiwa. Sejumlah unit kilang ditutup sementara, tetapi pasokan bahan bakar ke pasar domestik tetap aman.

Serangan terhadap fasilitas Saudi Aramco ini dinilai sebagai eskalasi signifikan karena infrastruktur energi Teluk kini menjadi target langsung. Sebelumnya, fasilitas energi Saudi juga pernah diserang, termasuk pada 2019 saat serangan drone dan rudal menghantam fasilitas Abqaiq dan Khurais yang memangkas lebih dari separuh produksi minyak Saudi. Kilang Ras Tanura juga pernah menjadi target serangan kelompok Houthi pada 2021.

QatarEnergy Siap Force Majeure, Produksi Minyak Kurdistan Irak Terhenti

Melansir Reuters, Selasa (3/3), perusahaan energi milik negara, QatarEnergy, yang 82% pelanggannya berasal dari Asia, bersiap menetapkan force majeure atas pengiriman LNG.

Langkah ini diambil setelah drone Iran menyerang kompleks Ras Laffan, lokasi fasilitas pemrosesan gas raksasa yang mendinginkan gas menjadi cair untuk diekspor melalui kapal. Serangan juga menghantam kawasan industri Mesaieed di selatan Qatar, pusat industri petrokimia dan manufaktur.

Di wilayah Kurdistan Irak, yang pada Februari mengekspor sekitar 200.000 barel per hari melalui pipa ke pelabuhan Ceyhan, Turki, sejumlah perusahaan menghentikan produksi sebagai langkah pencegahan. Perusahaan tersebut antara lain DNO, Gulf Keystone Petroleum, Dana Gas, dan HKN Energy. Tidak ada laporan kerusakan fasilitas.

Ladang Gas Israel Ditutup Sementara

Di lepas pantai Israel, pemerintah memerintahkan Chevron untuk menghentikan sementara operasi ladang gas Leviathan yang tengah diperluas kapasitasnya menjadi sekitar 21 miliar meter kubik per tahun. Proyek tersebut merupakan bagian dari kesepakatan ekspor senilai 35 miliar dolar AS ke Mesir.

Chevron menyatakan fasilitasnya aman. Sementara itu, Energean juga menghentikan kapal produksi yang melayani ladang gas kecil Israel.

Di Iran, terdengar ledakan di Pulau Kharg, yang memproses sekitar 90% ekspor minyak mentah negara tersebut. Dampak terhadap fasilitas belum diketahui secara pasti.

Iran merupakan produsen minyak terbesar ketiga dalam Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC), dengan produksi sekitar 3,3 juta barel minyak mentah per hari dan tambahan 1,3 juta barel per hari kondensat serta cairan lainnya. Total produksi tersebut setara sekitar 4,5% pasokan minyak global.

Harga Energi Melonjak

Gangguan terhadap fasilitas Saudi Aramco dan sejumlah infrastruktur energi lainnya memicu lonjakan harga global. Harga gas Eropa di hub TTF Belanda melonjak hingga 46%. Sementara harga minyak sempat naik hingga 13% dalam sehari dan menembus 82 dolar AS per barel, level tertinggi sejak Januari 2025.

Lonjakan ini dipicu terganggunya pelayaran di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Analis menilai serangan terhadap fasilitas Saudi Aramco dapat mendorong Arab Saudi dan negara Teluk lainnya semakin dekat untuk bergabung dalam operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, sehingga risiko eskalasi konflik dan gangguan pasokan energi global semakin besar.