periskop.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengejar target produksi lifting minyak nasional 1 juta barel per hari pada 2030 demi memenuhi instruksi Presiden Prabowo Subianto.

"Tapi target Bapak Presiden Prabowo kepada kami sebagai pembantu atas arahan dan perintahnya, di 2030 harus bisa mencapai 900 sampai dengan 1 juta baril per day," kata Bahlil dalam Konferensi Pers Penemuan Gas Raksasa di Kutai Perkuat Cadangan Energi Nasional di Jakarta, Senin (20/4).

Kapasitas produksi minyak nasional saat ini masih tertinggal jauh dari target kepala negara. Total lifting minyak tercatat baru menyentuh 605 ribu barel per hari sepanjang 2025.

Angka produksi harian ini diproyeksikan merangkak naik secara bertahap pada tahun-tahun mendatang. Kapasitas lifting diperkirakan baru mencapai 610 ribu barel per hari pada 2026.

"Dengan demikian, maka menuju swasembada energi itu kita harus mampu memenuhi stok kebutuhan kita dengan memanfaatkan cadangan-cadangan di negara kita," ujarnya.

Kementerian ESDM kini mengandalkan temuan ladang migas raksasa hasil eksplorasi perusahaan Eni di Blok Geliga dan Blok Gula. Dua wilayah kerja di pesisir Kalimantan Timur ini menjadi tulang punggung pencapaian target presiden.

Blok migas anyar tersebut segera menyumbang tambahan produksi kondensat ekuivalen minyak secara masif. Lapangan ini siap memproduksi 90 ribu barel per hari mulai 2028.

Suplai cadangan energi tambahan ini akan terus melonjak menjelang tenggat waktu 2030. Kapasitas produksi dari ladang baru siap menembus 150 ribu barel per hari pada rentang periode 2029 hingga 2030.

"Karena sekarang 610.000, 2027 akan naik lagi, kemudian 2028 tambah 90.000, kemudian 2029-2030 akan tambah lagi sekitar 150.000. Jadi insyaallah, ini memang butuh perjuangan keras," katanya.

Langkah agresif membuka sumur eksplorasi baru menjadi strategi mutlak mewujudkan kemandirian energi nasional. Upaya strategis ini sekaligus akan menekan ketergantungan impor minyak mentah dari pasar global.