Periskop.id - Meskipun pembangunan infrastruktur energi terbarukan terus mencetak rekor baru, ketergantungan dunia terhadap bahan bakar fosil ternyata masih sangat tinggi. 

Berdasarkan data terbaru dari Ember yang dihimpun oleh Visual Capitalist, fosil tetap menjadi tulang punggung utama pembangkit listrik global hingga periode 2025 sampai 2026. 

Data tersebut menunjukkan bahwa bahan bakar fosil secara kumulatif masih menyumbang hampir 57% dari total produksi listrik di seluruh dunia.

Batu bara masih memegang posisi puncak sebagai sumber energi terbesar dengan kontribusi mencapai 32,97%. Sebagian besar permintaan komoditas ini didorong oleh negara-negara dengan industrialisasi cepat, terutama di kawasan Asia seperti China dan India. 

Di wilayah tersebut, batu bara masih dinilai sebagai pilihan yang ekonomis dan mudah diperoleh untuk memenuhi lonjakan kebutuhan listrik yang masif.

Gas Alam dan Peran Energi Terbarukan yang Kian Kompetitif

Gas alam menempati urutan kedua sebagai sumber energi terbesar dengan kontribusi sekitar 21,77%. Dalam ekosistem energi global, pembangkit berbasis gas sering difungsikan sebagai cadangan fleksibel bagi energi terbarukan. 

Hal ini dikarenakan kapasitas produksinya yang dapat disesuaikan secara cepat untuk menyeimbangkan fluktuasi pasokan dari sumber matahari maupun angin.

Di sisi lain, perkembangan teknologi energi surya dan angin menunjukkan tren positif yang sangat pesat. Saat ini, kedua sumber tersebut mulai menyaingi tenaga nuklir dalam peta produksi listrik global. Berikut adalah rincian komposisi sumber listrik dunia:

PeringkatSumber EnergiNilai (%)
1Batu Bara32,97
2Gas Alam21,77
3Hidro (Air)14,00
4Nuklir8,85
5Surya (Matahari)8,70
6Angin8,50
-Fosil Lainnya2,65
-Terbarukan Lainnya2,50

Surya dan Angin Lampaui Tenaga Nuklir

Energi surya mencatatkan pertumbuhan paling signifikan dalam satu dekade terakhir, yang kini berkontribusi sebesar 8,70%. Penurunan harga panel surya serta masifnya instalasi di wilayah China, Eropa, dan Amerika Serikat menjadi faktor pendorong utama. 

Sementara itu, energi angin menyumbang 8,50%, didukung oleh proyek-proyek turbin angin lepas pantai yang tersebar di Eropa dan Asia. Jika digabungkan, energi surya dan angin kini menghasilkan listrik yang lebih besar dibandingkan tenaga nuklir maupun hidro.

Pilar Energi Rendah Karbo

Tenaga air atau hidro tetap menjadi sumber listrik rendah karbon terbesar di dunia dengan porsi 14%. Banyak negara masih mengandalkan bendungan hidroelektrik untuk menjamin stabilitas pasokan listrik yang tidak terputus.

Sementara itu, tenaga nuklir memberikan kontribusi sebesar 8,85%. Walaupun pertumbuhannya cenderung melambat, investasi pada reaktor generasi baru dan perpanjangan usia operasional pembangkit lama tetap dilakukan oleh sejumlah negara demi menjaga ketersediaan energi bersih yang stabil.