periskop.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terperosok pada perdagangan sesi I Rabu (13/5). Kombinasi lonjakan inflasi Amerika Serikat (AS), memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah, hingga dampak rebalancing indeks global MSCI menjadi pemicu utama aksi jual. 

Di saat yang sama, pelemahan rupiah dan potensi tekanan terhadap fiskal turut menambah beban sentimen negatif di pasar. Analis Pilarmas Sekuritas menyebut tekanan pasar dipicu ekspektasi suku bunga tinggi yang lebih lama di AS.

“Pasar menilai, inflasi AS yang lebih tinggi dan ketegangan geopolitik Timur Tengah serta kenaikan harga minyak dunia tentunya ini memperkuat ekspektasi bahwa The Fed mungkin akan mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama,” tulis Pilarmas dalam risetnya, Rabu (13/5).

Pada sesi pertama, IHSG tercatat turun 124 poin atau 1,81% ke level 6.734. Pergerakan ini sejalan dengan bursa Asia yang cenderung variatif, di tengah upaya pelaku pasar menyeimbangkan risiko inflasi AS yang meningkat dari 3,3% menjadi 3,8% (yoy), melampaui ekspektasi pasar.

Dari sisi global, perhatian investor juga tertuju pada rencana pertemuan puncak Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada 14–15 Mei mendatang. Agenda utama pembicaraan diperkirakan masih berfokus pada isu perdagangan, meski tensi geopolitik di Timur Tengah belum sepenuhnya mereda. Pilarmas menilai pasar tetap berhati-hati terhadap dinamika hubungan dua ekonomi terbesar dunia tersebut.

“Pasar juga mengamati kemajuan terkait potensi perpanjangan gencatan senjata perdagangan saat ini, karena tarif tetap menjadi sumber gesekan utama antara Washington dan Beijing,” lanjutnya.

Sementara itu dari dalam negeri, tekanan terhadap IHSG semakin dalam setelah pelaku pasar merespons hasil peninjauan indeks MSCI periode Mei 2026. Penurunan bobot saham Indonesia dalam MSCI Emerging Markets memicu kekhawatiran terjadinya arus keluar dana asing.

“Pelaku pasar merespons akan kekhawatiran keluarnya arus modal dari pasar keuangan. Sentimen ini dipicu oleh penurunan bobot indeks saham Indonesia dalam MSCI Emerging Markets pasca-proses rebalancing yang mendorong tekanan aksi jual,” jelas Pilarmas.

Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turut menambah tekanan. Kondisi ini dinilai berpotensi meningkatkan beban subsidi pemerintah dan memicu kekhawatiran terhadap ketahanan fiskal, seiring risiko membengkaknya belanja APBN.

Pada perdagangan sesi I, saham-saham yang mencatatkan penguatan terbesar antara lain KOPI, KONI, ELPI, SWID, dan BNBR. Sebaliknya, saham yang mengalami penurunan terdalam di antaranya MSIN, YOII, TPIA, MORA, dan SIPD.