periskop.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau melemah dalam perdagangan terbaru di tengah respons pasar terhadap pengumuman rebalancing indeks global MSCI. Pada sesi pertama perdagangan Rabu (13/5) IHSG tercatat turun 124 poin atau 1,81% ke level 6.734.
Meski demikian, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai pelemahan tersebut justru membuka peluang dari sisi valuasi saham di pasar modal Indonesia. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menyebut kondisi saat ini masih mencerminkan stabilitas pasar yang terjaga, tanpa indikasi kepanikan investor.
“Kalau kita lihat sebetulnya per hari ini dengan seluruh dinamika yang ada, termasuk apa yang terjadi secara geopolitik di regional global maupun domestik, tingkat rata-rata harga-harga yang dicerminkan dari price to earnings ratio (PER) IHSG kita sekarang sudah jauh di bawah posisi pada saat terjadi all time high di pertengahan Januari,” ujar Hasan dalam konferensi pers, Rabu (13/5).
OJK menambahkan, saat ini valuasi pasar modal Indonesia berada di level yang relatif lebih rendah dibandingkan periode puncak sebelumnya maupun sejumlah pasar di kawasan regional.
“Sekarang bahkan secara PER regional, tingkat rata-rata PER saham-saham kita sudah ada di bawah PER rata-rata bursa-bursa lainnya, sekarang tingkatnya di level 16 kali,” lanjutnya.
Menurut OJK, kondisi tersebut justru dapat menjadi momentum bagi investor untuk melakukan seleksi saham berbasis fundamental, terutama pada emiten dengan prospek kinerja yang solid ke depan.
“Ini juga menunjukkan sebetulnya kami berharap para investor kita secara selektif memanfaatkan momentum ini untuk masuk di pasar dan memilih saham-saham terbaik yang secara prospektif dapat terus membaik kinerjanya dari waktu ke waktu,” kata OJK.
Meski IHSG mengalami tekanan, OJK memastikan aktivitas pasar tetap berjalan normal tanpa indikasi aksi jual berlebihan. Aktivitas transaksi disebut masih berada dalam batas wajar.
Sebelumnya, IHSG tertekan seiring sentimen global dan penyesuaian indeks MSCI yang berdampak pada sejumlah saham Indonesia. Namun regulator menegaskan bahwa koreksi yang terjadi masih dalam batas wajar dan tidak mencerminkan kepanikan pasar.
OJK bersama Self-Regulatory Organization (SRO) juga memastikan akan terus memantau kondisi pasar serta menjaga stabilitas melalui berbagai kebijakan yang telah diterapkan, termasuk buyback tanpa RUPS, penundaan short selling hingga September 2026, serta mekanisme trading halt dan asymmetric auto rejection.
Tinggalkan Komentar
Komentar