Periskop.id - Ekosistem pabrik baterai electric vehicle (EV) terintegrasi di Karawang, Jawa Barat dijadwalkan rampung dan diresmikan pada akhir Juli 2026. Proyek ini digarap bersama PT Aneka Tambang (Antam), Indonesia Battery Corporation (IBC), dan konsorsium perusahaan China, Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co. Ltd. (CBL).

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan, proyek tersebut merupakan bagian dari program hilirisasi strategis nasional yang telah dicanangkan pemerintah. Ia menyampaikan hal itu usai melaporkan perkembangan terkini kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat di Istana.

"Kami melakukan rapat dengan Bapak Presiden untuk mengevaluasi program hilirisasi. Karena beberapanya sudah jalan, kami juga melapor kepada Bapak Presiden bahwa program hilirisasi kita untuk ekosistem baterai mobil yang kerjasama antara CATL dan Antam itu sudah selesai dan Insya Allah akan diresmikan nanti di bulan Juli akhir," ujar Bahlil di Istana, Selasa (23/6).

Proyek ini melibatkan total enam usaha patungan (joint venture/JV) yang mencakup rantai produksi dari sisi hulu hingga hilir. Total investasi keseluruhan proyek tercatat sebesar US$5,9 miliar, setara Rp96,04 triliun.

Di sisi hulu, terdapat tiga JV. JV pertama adalah proyek pertambangan nikel PT Sumberdaya Arindo (SDA) berkapasitas 13,8 juta wet metric ton (wmt) per tahun, dengan porsi kepemilikan Antam 51% dan CBL 49%. Proyek ini telah berproduksi sejak 2023.

JV kedua mencakup smelter nikel jenis Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) milik PT Feni Haltim berkapasitas 88 ribu ton per tahun, dipegang CBL 60% dan Antam 40%, dengan target produksi 2027. JV ketiga adalah smelter jenis High Pressure Acid Leaching (HPAL) PT Nickel Cobalt Halmahera berkapasitas 55 ribu ton MHP per tahun, dimiliki CBL 70% dan Antam 30%, ditargetkan berproduksi pada 2028.

Di sisi hilir, JV keempat memproduksi material baterai di Halmahera Timur, Maluku Utara berkapasitas 30 ribu ton lithium hydroxide per tahun. Kepemilikannya terbagi antara CBL 70% dan IBC 30%, dengan target produksi 2028.

JV kelima adalah proyek sel baterai PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) yang berlokasi di kawasan industri Karawang. Total kapasitasnya mencapai 15 GWh per tahun, terbagi dalam dua fase. Fase pertama berkapasitas 6,9 GWh ditargetkan mulai berproduksi tahun 2026 ini, sementara fase kedua berkapasitas 8,1 GWh menyusul pada 2028.

JV keenam adalah proyek daur ulang baterai yang juga berlokasi di Halmahera Timur, berkapasitas 20 ribu ton logam per tahun. CBL menguasai 60% saham, sedangkan IBC memegang sisanya sebesar 40%. Proyek ini ditargetkan beroperasi pada 2031.

Ekosistem baterai EV ini diklaim sebagai yang terbesar di Asia. Kuatnya posisi Indonesia sebagai negara penghasil nikel menjadi tumpuan utama keberhasilan proyek tersebut, mengingat nikel adalah bahan baku inti komponen baterai.

Selain hilirisasi, Bahlil turut melaporkan kondisi ketahanan energi nasional dalam rapat yang sama. Ia menyebutkan cadangan energi Indonesia saat ini berada pada level yang aman untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

"Ketahanan energi kita rata-rata di atas 20 hari minimum," pungkas Bahlil.