Periskop.id – Kilang Balongan di Indramayu, Jawa Barat, memanfaatkan kembali gas yang sebelumnya dibakar melalui sistem gas suar atau flare menjadi bahan bakar produksi. Inovasi ini diklaim mampu menghemat biaya operasional sekitar Rp45 miliar per tahun, sekaligus menekan emisi hingga 29.754 ton karbon dioksida ekuivalen sepanjang 2025.

Pemanfaatan tersebut dilakukan melalui optimalisasi kelebihan gas dari Naphtha Processing Unit. Jalur yang sebelumnya tidak aktif direaktivasi agar gas dapat dialirkan menuju fuel gas system dan digunakan kembali dalam proses produksi.

Executive General Manager PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Balongan Yulianto Triwibowo mengatakan, langkah tersebut mengurangi gas yang terbuang sekaligus menekan penggunaan gas alam dari sumber lain.

“Gas yang sebelumnya terbuang melalui flare kini dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar proses produksi, sehingga mampu mengurangi pemborosan energi, meningkatkan efisiensi operasional, serta menekan emisi gas rumah kaca secara signifikan,” katanya dalam keterangan di Indramayu, Rabu (5/8).

Berdasarkan catatan perusahaan, penggunaan kembali kelebihan gas tersebut berhasil mengurangi konsumsi natural gas. Efisiensi yang dihasilkan diperkirakan mencapai Rp45 miliar setiap tahun, sedangkan pengurangan emisinya tercatat sebesar 29.754 ton CO2 ekuivalen selama 2025.

Flare Tetap Dibutuhkan Sebagai Sistem Keselamatan

Flare merupakan perangkat keselamatan yang wajib tersedia di fasilitas minyak dan gas. Sistem ini berfungsi membakar kelebihan gas hidrokarbon secara terkendali ketika tekanan atau volume gas tidak dapat ditampung oleh sistem produksi.

Karena memiliki fungsi keselamatan, flare tidak dapat dihilangkan sepenuhnya. Namun, volume gas yang dibakar dapat ditekan dengan menangkap dan menggunakannya kembali sebagai bahan bakar, sumber listrik, atau bahan baku proses industri.

“Optimalisasi pengelolaan gas suar merupakan bentuk komitmen kami untuk menghadirkan operasi kilang yang semakin andal, efisien, aman, dan ramah lingkungan,” ujar Yulianto.

Pemanfaatan gas flare juga dinilai memberikan dampak bagi lingkungan sekitar kilang. Berkurangnya pembakaran gas dapat menekan paparan panas radiasi, suara, jelaga, serta emisi yang timbul dari nyala gas suar.

“Inovasi ini tidak hanya meningkatkan efisiensi energi perusahaan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan,” katanya.

Kilang Balongan sebelumnya memperoleh penghargaan kategori Optimalisasi Pengelolaan Gas Suar pada Kegiatan Usaha Hilir Migas dalam Subroto Awards 2025. Penghargaan tersebut berkaitan dengan upaya perusahaan meningkatkan efisiensi energi dan mengurangi pembakaran gas suar.

Pembakaran Gas Masih Menjadi Persoalan Global

Pemanfaatan gas suar menjadi penting karena pembakaran gas di industri minyak dan gas masih terjadi dalam skala besar. Laporan Global Gas Flaring Tracker 2026 dari Bank Dunia mencatat sekitar 167 miliar meter kubik gas dibakar secara global sepanjang 2025.

Nilai gas yang terbuang tersebut diperkirakan mencapai US$54 miliar. Jumlahnya bahkan lebih besar daripada volume gas alam cair yang melintasi Teluk Persia pada tahun yang sama dan setara dengan konsumsi gas tahunan seluruh Afrika.

Bank Dunia memperkirakan kegiatan flaring menghasilkan sekitar 400 juta ton emisi CO2 ekuivalen setiap tahun. Selain karbon dioksida, proses pembakaran yang tidak sempurna juga dapat melepaskan metana, gas rumah kaca yang memiliki daya pemanasan jauh lebih kuat dalam jangka pendek.

Gas yang sebelumnya dibakar sebenarnya dapat dimanfaatkan kembali melalui jaringan pipa, pembangkit listrik di lokasi produksi, sistem gas terkompresi, atau teknologi pengolahan berskala kecil. Namun, penerapannya membutuhkan infrastruktur, investasi, akses pasar, dan aturan yang mendorong perusahaan mengurangi flaring.

Mendukung Target Emisi Pertamina

Program di Kilang Balongan menjadi bagian dari upaya Pertamina mengurangi emisi operasional dan mendukung target Net Zero Emission Indonesia pada 2060 atau lebih cepat.

Dalam Laporan Keberlanjutan 2024, Pertamina Group mencatat pengurangan emisi gas rumah kaca dari kegiatan operasional sebesar 1.711.306 ton CO2 ekuivalen. Angka tersebut meningkat dibandingkan pengurangan sebesar 1.135.099 ton CO2 ekuivalen pada 2023.

Pertamina menjalankan strategi penurunan emisi melalui efisiensi energi, pengurangan metana, pengembangan energi rendah karbon, serta penerapan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon.

“Melalui berbagai inovasi berkelanjutan, kami terus mendukung target Net Zero Emission Indonesia tahun 2060 sekaligus memastikan pasokan energi nasional tetap terjaga,” tutur Yulianto.

Menurut perusahaan, keberhasilan pemanfaatan gas flare di Balongan merupakan hasil kolaborasi pekerja dalam mengembangkan perbaikan operasional. Inovasi serupa dinilai dapat membantu kilang menjaga produksi energi sekaligus mengurangi pemborosan sumber daya dan dampak lingkungan.