Kualitas Udara Singapura Tembus 190, Kategori Tidak Sehat
Indeks kualitas udara Singapura menyentuh angka 190 pada Sabtu (19/9), imbas kabut asap kiriman karhutla yang dipicu fenomena cuaca ekstrem.

Periskop.id - Kualitas udara di Singapura memburuk drastis pada Sabtu (19/9). Indeks pencemaran udara di negara tersebut masuk kategori tidak sehat akibat kabut asap kiriman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Layanan pemantauan kualitas udara IQAir mencatat indeks kualitas udara Singapura menyentuh angka 190 pada pukul 11.00 waktu setempat. Angka tersebut jauh melampaui ambang batas aman yang biasa dijadikan acuan kesehatan masyarakat.
Kabut asap tebal dilaporkan menyelimuti wilayah Singapura sepanjang hari, membuat jarak pandang warga ikut berkurang. Kondisi ini menambah daftar dampak buruk dari fenomena kabut asap lintas negara yang kerap terjadi setiap musim kering.
Fenomena ini bukan kejadian baru bagi Singapura. Negara tersebut memang rutin terdampak asap kiriman ketika karhutla melanda kawasan tetangga, terutama pada musim yang cenderung kering.
Memburuknya kualitas udara kali ini dipicu oleh fenomena cuaca yang disebut "super-El Nino". Cuaca ekstrem tersebut menyebabkan kekeringan panjang di sejumlah wilayah, termasuk Indonesia.
Kekeringan akibat super-El Nino inilah yang kemudian memicu munculnya titik-titik kebakaran hutan di Indonesia. Asap dari kebakaran itu terbawa angin dan menyebar ke wilayah Singapura, hingga akhirnya mengganggu kualitas udara di sana.
Indeks kualitas udara 190 menempatkan Singapura dalam zona yang dianggap berisiko bagi kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, dan orang dengan gangguan pernapasan. Paparan udara pada level ini umumnya memicu keluhan kesehatan ringan hingga sedang bagi masyarakat umum.
Kabut asap yang menyelimuti Singapura turut memengaruhi aktivitas luar ruangan warga setempat. Jarak pandang yang berkurang membuat pemandangan kota tampak lebih buram dibanding hari-hari biasa.
Fenomena super-El Nino sendiri dikenal sebagai versi lebih ekstrem dari siklus iklim El Nino biasa. Dampaknya meliputi kekeringan berkepanjangan yang meningkatkan risiko kebakaran hutan di kawasan tropis, termasuk Indonesia.
Kondisi kabut asap lintas batas seperti ini kerap menjadi isu tahunan di kawasan Asia Tenggara. Singapura dan Malaysia menjadi dua negara yang paling sering terdampak asap kiriman dari karhutla di Indonesia setiap musim kemarau panjang tiba.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai singapura dengan mengeklik tautan.


Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.