Iklan
Energi

Pemerintah Jamin Harga BBM Bersubsidi Tidak Naik hingga Akhir 2026

Airlangga Hartarto memastikan harga BBM bersubsidi tidak naik hingga akhir 2026 berkat bantalan APBN menghadapi gejolak minyak global

SPBU, Pertamina, Premium, Pertamax, Pertalite, Pertamax Green, Pertamax Turbo, Dexlite, Pertamina Dex, Bensin, BBM
Sejumlah kendaraan mengantre untuk mengisi bahan bakar minyak di SPBU kawasan Palmerah, Jakarta, Selasa (31/3/2026). Periskop/Arief Rachman
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menjamin tarif bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan hingga penutupan tahun 2026.

Kepastian tersebut ia sampaikan untuk menenangkan masyarakat di tengah krisis ekonomi dunia yang belum menentu.

Ia menjelaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan strategi khusus untuk membendung imbas gejolak harga energi global.

Menurutnya, APBN dialokasikan secara optimal sebagai peredam guncangan pasar internasional terhadap daya beli publik.

"Kita tahu perang di Selat Hormuz sudah (berlangsung) 6 bulan, ini sudah lebih dan ujungnya kita belum kelihatan ujungnya. Kemudian yang perang Ukraina pun belum selesai, namun kelihatannya dunia sudah mulai imun terhadap kedua perang tersebut. Ya tentu gonjang-ganjing perubahan harga minyak yang terus selalu dimonitor," kata Airlangga dikutip dari ANTARA, Rabu (23/9).

Ia menambahkan, patokan harga minyak non-subsidi dari pemerintah saat ini masih terkendali pada kisaran US$90 per barel. Angka ini dinilai aman karena berada di bawah batas maksimal anggaran negara.

Menurutnya, stabilitas indikator ekonomi tersebut menjadi alasan utama pemerintah yakin mampu mempertahankan tarif lama. Ia menilai masyarakat tidak perlu cemas terhadap potensi lonjakan biaya energi pada segmen subsidi.

"Alhamdulillah untuk Indonesia transmisi ini masih bisa diredam oleh buffer APBN kita. Sehingga kalau harga minyak di bawah 100 (dolar AS per barel), sekarang harga pembelian pemerintah khusus yang non-subsidi itu di bawah 100 dolar AS per barel, sekitar 90-an dolar AS. Ini sampai akhir tahun kita masih bisa pertahankan, tidak ada perubahan kenaikan harga, terutama BBM bersubsidi," ujar Airlangga.

Airlangga menyebut kalkulasi matang ini terus disesuaikan dengan kondisi pasar keuangan global terkini. Ia menegaskan evaluasi berjalan secara konstan agar beban APBN tetap seimbang.

Sektor anggaran fleksibel diandalkan agar dinamika minyak mentah dunia tak berdampak langsung pada ritel lokal. Kebijakan peredam ini diklaim efektif menahan efek domino inflasi domestic.

Guncangan ekonomi global saat ini dipicu oleh pertikaian bersenjata di kawasan Selat Hormuz yang telah berjalan selama setengah tahun. Di sisi lain, perselisihan militer antara Rusia dan Ukraina juga belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Meski demikian, pasar finansial internasional dinilai mulai mampu beradaptasi dengan tekanan geopolitik tersebut. Ketahanan pasar membuat pergerakan harga komoditas utama dunia tidak setajam pada awal konflik meluas.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Airlangga Hartarto, dan BBM dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.