periskop.id - Assalamualaikum, Sobat Halalive.

Skenario horor di bulan Ramadhan itu bukan ketemu hantu pocong di jalan pas mau ke masjid, tapi bangun tidur jam 04.25 pagi, terus sayup-sayup denger suara dari masjid: "Imsaaaaak... Imsaaaaak..."

Duar! Jantung rasanya mau copot. Mata masih lengket, nyawa belum kumpul, tapi perut keroncongan minta diisi. Di meja makan ada sisa lauk semalam atau segelas air putih yang menggoda iman. Pertanyaan besarnya: Masih boleh dimakan nggak sih? Atau udah haram alias batal kalau nekat nelen?

Banyak dari kita yang overthinking di momen genting ini. Ada yang milih pasrah nggak sahur (ujung-ujungnya lemes jam 10 pagi), ada juga yang nekat makan sambil perasaan bersalah. Padahal, Islam itu simpel dan logis, Sobat Halalive.

Yuk, kita luruskan salah kaprah "Imsak = Lampu Merah" yang udah mendarah daging di masyarakat kita.

Kenalan Dulu Sama Istilah "Imsak"

Secara bahasa (etimologi), imsak itu artinya "menahan" (al-imsak). Menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa.

Nah, di Indonesia, jadwal "Imsak" yang ada di kalender-kalender puasa itu biasanya diset 10 menit sebelum adzan Subuh. Ini adalah kearifan lokal para ulama kita terdahulu sebagai waktu kehati-hatian (ikhtiyath).

Ibarat lampu lalu lintas, "Waktu Imsak" di kalender itu adalah Lampu Kuning. Artinya: "Bro, ati-ati bentar lagi Subuh, cepetan abisin makannya, sikat gigi, siap-siap ke masjid."

Bukan Lampu Merah. Jadi, kalau sirine imsak bunyi, piring kamu nggak serta-merta meledak atau makanan jadi haram masuk mulut. Santai aja.

Kapan Lampu Merahnya?

Lampu merah yang sesungguhnya, alias batas akhir stop makan dan minum, adalah saat Terbit Fajar Shadiq (Fajar yang sebenarnya), yang ditandai dengan Adzan Subuh.

Allah SWT berfirman dengan sangat jelas di Al-Qur'an:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

(Latin: Wa kuluu wasyrabuu hattaa yatabayyana lakumul khaythul abyadhu minal khaythil aswadi minal fajri)

Artinya: "Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar." (QS. Al-Baqarah: 187)

Ayat ini clear banget. Selama fajar belum terbit (belum adzan Subuh), gas terus!

Hadits Nabi: Bilal vs Ibnu Ummi Maktum

Biar makin yakin, kita lihat praktik di zaman Rasulullah SAW. Dulu di Madinah ada dua orang muadzin (tukang adzan): Bilal bin Rabah dan Abdullah bin Ummi Maktum.

Bilal biasanya adzan pertama di malam hari (sebelum Subuh) buat bangunin orang sahur. Sedangkan Ibnu Ummi Maktum (yang tunanetra) adzan kedua pas fajar beneran terbit (tanda masuk waktu Subuh).

Nabi SAW bersabda:

إِنَّ بِلاَلاً يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ، فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ

(Latin: Inna Bilaalan yu'adzzinu bilaylin, fakuluu wasyrabuu hattaa yu'adzzina Ibnu Ummi Maktum)

Artinya: "Sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan di malam hari, maka makan dan minumlah kalian sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan." (HR. Bukhari dan Muslim)

Jadi, sahabat Nabi dulu tuh punya "sirine imsak" versi manusia, yaitu adzannya Bilal. Pas Bilal adzan, mereka masih boleh makan. Baru pas Ibnu Ummi Maktum adzan, mereka berhenti total.

Studi Kasus: "Pas Lagi Ngunyah, Eh Adzan Subuh!"

Nah, ini kejadian yang sering banget dialami kaum "Sistem Kebut Semalam" alias bangun mepet. Gimana kalau makanan udah di mulut, atau gelas udah di tangan, tiba-tiba "Allahu Akbar, Allahu Akbar..." berkumandang?

Para ulama fiqih membedah ini jadi dua kondisi:

  1. Makanan di Mulut: Kalau pas lagi ngunyah terus denger adzan Subuh (yang menandakan fajar shadiq terbit), kamu WAJIB melepehkan/memuntahkan sisa makanan itu. Kalau kamu telan dengan sengaja padahal tahu udah adzan, puasanya batal. Game over.
  2. Gelas di Tangan: Ada sebuah hadits riwayat Abu Daud yang bunyinya: “Jika salah seorang dari kalian mendengar adzan sedangkan gelas ada di tangannya, janganlah ia meletakkannya hingga ia menyelesaikan hajatnya (minum).”
    Tapi, eits tunggu dulu! Mayoritas ulama (Jumhur) menilai hadits ini harus dipahami dengan hati-hati atau bahkan dianggap lemah jika bertentangan dengan ayat Al-Qur'an tadi. Pendapat yang paling aman (ahwat) dan kuat menurut 4 Mazhab adalah: Berhenti seketika.

Jadi, saran Halalive buat Sobat yang pengen aman dunia akhirat: Kalau adzan udah bunyi, STOP. Jangan ambil risiko debat fiqih di detik-detik krusial cuma gara-gara seteguk air. Kecuali kamu yakin banget adzan di masjid sebelah itu kecepetan 5 menit dari jadwal (tapi siapa yang mau judi pahala puasa, kan?).

Jadi, Imsak 10 Menit Itu Salah?

Nggak salah, Sobat Halalive. Justru itu bagus banget buat manajemen waktu. Bayangin kalau nggak ada jadwal Imsak, kita bakal makan terus sampai detik-detik terakhir, terus pas adzan mulut masih penuh rendang. Ribet kan harus kumur-kumur dan bersihin sela gigi pas waktu shalat udah masuk?

Jadwal Imsak 10 menit itu ngebantu kita buat:

  • Sikat gigi dan bersihin mulut (biar nafas nggak bau naga pas shalat Subuh).
  • Minum obat atau vitamin terakhir.
  • Niat puasa (kalau belum).
  • Jalan ke masjid dengan tenang, nggak lari-lari kayak dikejar debt collector.

Kesimpulan: Jangan Panik, Tapi Jangan Nyepelein

Intinya:

  1. Kalau sirine Imsak bunyi: LANJUT MAKAN/MINUM. Itu baru peringatan (Lampu Kuning).
  2. Kalau Adzan Subuh bunyi: BERHENTI TOTAL. Itu batas akhir (Lampu Merah).
  3. Jangan sengaja mepet-mepetin waktu sahur sampai adzan kalau nggak darurat. Sunnah nabi memang mengakhirkan sahur, tapi bukan berarti injury time yang bikin sport jantung.

Jadi, kalau besok kamu bangun pas sirine Imsak, tarik napas, ambil air putih, makan kurma atau roti, dan nikmati dengan tenang sampai adzan berkumandang.

Semoga puasa kita lancar jaya, perut aman, pahala full!

Sumber Rujukan

  1. Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 187: https://quran.com/2/187
  2. Hadits tentang Bilal & Ibnu Ummi Maktum (Sahih Bukhari): https://sunnah.com/bukhari:623
  3. Hadits tentang Gelas di Tangan (Abu Daud - Perlu pemahaman konteks ulama): https://sunnah.com/abudawud:2350