periskop.id - Eks Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim menegaskan dirinya tidak pernah menjadikan jabatan publik sebagai sarana memperkaya diri. Ia menegaskan, jika ingin memperkaya diri sendiri, akan tetap berada di dunia bisnis. 

“Kalau memang tujuan saya memperkaya diri, saya akan memilih untuk tetap di dunia bisnis, di mana semua pintu terbuka bagi saya untuk meraih kesuksesan. Saya tidak mungkin mempertaruhkan kebebasan dan reputasi saya yang telah saya bangun selama puluhan tahun hanya untuk menambah kekayaan saya,” kata Nadiem, saat pembacaan eksepsi, di Pengadilan Tipikor Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Senin (5/1).

Nadiem mengatakan, seluruh perjalanan kariernya, baik di sektor swasta maupun saat menjabat sebagai Mendikbudristek, dilandasi niat pengabdian kepada negara, bukan orientasi materi.

“Seluruh karier saya, baik di Gojek maupun di Kemendikbud, adalah ikhtiar saya untuk membangun negeri ini menjadi lebih baik. Saya sudah diberkati Allah dengan kesuksesan finansial, tetapi itu tidak pernah menjadi tujuan hidup saya,” tegas dia.

Ia mengakui memilih jalur yang penuh risiko dengan masuk ke pemerintahan. Meskipun sedang menghadapi proses hukum, Nadiem menyatakan tidak menyesali keputusannya menerima amanah sebagai menteri.

“Saya memilih jalan yang sulit. Saya memilih jalan yang tidak nyaman. Walaupun hati saya penuh dengan kesedihan dengan musibah yang saya hadapi sekarang, saya tidak pernah menyesali keputusan saya untuk menerima amanah sebagai menteri,” jelas Nadiem.

Nadiem menegaskan kecintaannya kepada negara tidak berubah, apa pun hasil dari perkara yang sedang dihadapinya. Ia menyatakan tetap bangga pernah dipercaya mengemban tugas negara.

“Saya masih bangga bisa dipercayakan dengan amanah yang berat tapi mulia. Saya mencintai negara ini, dan bencana ini tidak akan mengubah kesetiaan saya kepada negara. Apa pun hasil dari sidang saya, saya tidak akan berhenti berbakti kepada negeri,” ujar Nadiem.

Saat eksepsi, Nadiem juga menceritakan sikapnya saat pertama kali mengetahui perkara tersebut naik ke tahap penyidikan. Nadiem mengaku langsung kembali ke Indonesia meski sedang berada di luar negeri bersama istrinya.

“Saat pertama kali saya mendengar kasus ini masuk tahap penyidikan, saya lagi di luar negeri berdua dengan istri saya. Saya langsung memotong liburan saya dan kembali ke tanah air untuk menghadapi kasus ini,” ungkap dia.

Nadiem menegaskan kesiapannya menghadapi proses hukum karena merasa tidak melakukan perbuatan tercela. 

“Saya siap menghadapi badai, karena hati nurani saya bersih,” tegas dia.

Dalam eksepsinya, Nadiem juga menyatakan dirinya tidak hanya membela kepentingan pribadi, tetapi juga memperjuangkan prinsip keadilan bagi pejabat dan profesional yang bekerja dengan itikad baik.

“Saya juga berjuang untuk setiap profesional dan pejabat jujur yang dituduh korupsi,” ujar Nadiem.

Ia memperingatkan bahaya kriminalisasi kebijakan terhadap masa depan pemberantasan korupsi dan minat generasi muda untuk mengabdi di sektor publik.

“Demi menjaga martabat upaya antikorupsi di Indonesia, kriminalisasi kebijakan harus berhenti di negara ini. Setiap anak muda, setiap profesional yang punya keinginan mengabdi untuk negeri ini akan menyaksikan hasil dari sidang ini,” ucap dia.

Nadiem menutup eksepsinya dengan pernyataan reflektif dan doa sambil menegaskan tekadnya membela kebenaran.

“Masa depan negara kita ada di tangan anak muda, dan saya di sini untuk membela kebenaran agar yang terjadi dengan saya tidak terulang lagi. Ya Allah, dengarkanlah hati nurani saya. Bukalah kebenaran dalam kasus ini. Berikan keadilan kepada semua orang jujur yang terzalimi di negara ini. Amin ya rabbal alamin,” tutup Nadiem.