periskop.id - Iqbal Damanik, Climate and Energy Manager Greenpeace, mendapatkan teror bangkai ayam tanpa kepala yang berisi ancaman. Teror ini pun dilaporkan ke Bareskrim Polri.

Laporan polisi itu bernomor LP/B/20/I/2026/SPKT/BARESKRIM/POLRI. Laporan mengenai dugaan tindak pidana pengancaman secara tertulis dan dengan syarat tertentu dalam Pasal 449 Ayat (2) KUHP Undang-Undang (UU) Nomor 2 Tahun 2023.

"Kami melaporkan teror yang saya terima,” kata Iqbal, di Bareskrim Polri, Rabu (14/1). 

Iqbal mengungkapkan, pada 30 Desember 2025, ia menerima kiriman bangkai ayam tanpa kepala dan terdapat tulisan berisi dua kalimat. Tulisan tersebut berbunyi: “Jaga mulutmu kalau mau keluargamu aman” dan “Mulutmu harimaumu”. 

Iqbal menduga teror tersebut berkaitan dengan kampanye sebagai aktivis beberapa waktu lalu. 

“Kami menduga bahwa ini terkait dengan suara-suara aktivis yang dilakukan oleh saya dan beberapa aktivis lainnya, termasuk kerja-kerja, kampanye yang dilakukan Greenpeace selama ini,” tutur dia. 

Iqbal berharap dengan adanya laporan ini, tidak ada lagi ketakutan para aktivis dan influencer yang bersuara mengkritisi kebijakan pemerintah. 

“Dan kami menganggap ini tidak hanya sekadar menebar ketakutan pada orang-orang dan organisasi yang bersuara kritis untuk kebaikan bangsa dan negara ini sehingga kami mengambil inisiatif ini perlu dilaporkan kepada pihak kepolisian agar diambil langkah sehingga tidak menjadi penebar ketakutan bagi para aktivis dan influencer," ucap Iqbal.

Iqbal membuat laporan ke Polri dengan membawa barang bukti berupa bangkai ayam tanpa kepala. Selain itu, Iqbal juga menyerahkan barang bukti ancaman tertulis, baik melalui teror bangkai ayam maupun melalui media sosialnya.

“Kami menyerahkan ayam yang sudah mati beserta tulisan ancaman tadi,” jelas dia.

Lebih lanjut, Iqbal juga mengungkapkan, ancaman yang diterimanya berlangsung secara beruntun sejak 20 Desember 2025. Teror dimulai dengan ribuan komentar ancaman di media sosial, pesan langsung (direct message) yang berisi gambar kepala babi, sampai pesan yang mencantumkan alamat rumahnya.

Bahkan, ancaman untuk Iqbal juga berlanjut ke teror fisik. Teror terakhir yang diterima aktivis Greenpeace ini terjadi pada 30 Desember 2025 berupa bangkai ayam tanpa kepala yang dikirim ke rumahnya. Iqbal menilai, rangkaian teror itu dimaksudkan untuk membuatnya berhenti mengkritik penanganan bencana di Sumatra dan isu lingkungan hidup di Indonesia.