Periskop.id - Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Tangerang, Provinsi Banten, mengimbau masyarakat mewaspadai penipuan dengan modus menawarkan kerja sampingan, melalui grup Telegram.

Kepala Diskominfo Kota Tangerang Mugiya Wardhany di Tangerang, Jumat (24/4) mengatakan, penawaran yang biasanya diberikan adalah kerja dengan keuntungan besar melalui tugas-tugas ringan.

Pelaku kejahatan siber, kata dia, memainkan psikologi korban untuk masuk dalam tawarannya. Modus yang dikenal dengan skema "Misi Berbayar" ini kerap mencatut nama institusi perbankan ternama untuk meyakinkan korbannya.

Modus penipuan diawali dengan undangan grup Telegram secara sepihak, pemberian tugas ringan seperti memberikan tanda suka pada konten, hingga pemberian komisi kecil yang sengaja dilakukan penip,u untuk mendapatkan kepercayaan korbannya.

“Waspadai jika diminta mentransfer sejumlah uang atau deposit dengan dalih misi besar untuk mendapat keuntungan berlipat, serta perhatikan jika grup tersebut memiliki kontrol ketat, dimana hanya admin yang bisa mengirim pesan," kata Mugiya.

Ia pun mengimbau warga Kota Tangerang untuk lebih tenang menolak tawaran sejak awal daripada menanggung penyesalan pada kemudian hari. Keamanan data dan finansial adalah prioritas utama.

"Jika warga menemukan atau menjadi korban tindak penipuan siber, segera lapor melalui kanal resmi kepolisian atau layanan aduan masyarakat yang tersedia di aplikasi Tangerang LIVE," ucap Mugiya.

Adapun langkah preventif yang bisa dilakukan warga, lanjutnya, adalah mengabaikan dan keluar jika tiba-tiba diundang ke grup mencurigakan, segera klik "Report Spam and Leave".

Ia menegaskan untuk tidak mentransfer uang sebesar apapun ke rekening orang tak dikena,l dengan alasan mempermudah pencairan hasil kerja. Jangan juga memberikan data perbankan, PIN, atau kode OTP kepada siapa pun.

"Tawaran kerja yang bisa dilakukan sambil rebahan namun menghasilkan jutaan rupiah dalam waktu singkat patut diwaspadai," ujar Mugiya.

Dokumen Digital
Sebelumnya, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) menyebutkan kasus penipuan dokumen digital, paling sering terjadi dengan modus pembukaan lowongan pekerjaan.

"Di Komdigi itu jumlah laporan penipuan hitungannya ratusan ribu dan kami yang melibatkan dokumen (menemukan) paling banyak terkait apa? Lowongan kerja, itu paling dominan," kata Direktur Pengawasan Sertifikasi dan Transaksi Elektronik Kemkomdigi Teguh Arifiyadi.

Ia menambahkan, pelaku biasanya menyebarkan dokumen dalam berbagai format seperti file PDF, gambar, hingga infografis yang dibuat menyerupai dokumen resmi perusahaan. Terkait modus lowongan kerja, ia memaparkan skema yang kerap digunakan pelaku. Korban biasanya menemukan informasi rekrutmen di media sosial.

Setelah pelamar dinyatakan lolos, korban diarahkan mengikuti pelatihan kerja atau di luar kota. Lalu pelaku akan meminta sejumlah uang kepada korban dengan kedok tiket perjalanan yang dijanjikan akan diganti oleh pihak perusahaan.

"Mereka (korban) udah transfer Rp4 juta, Rp5 juta, ternyata tiketnya dikasih PDF juga, bentuknya PDF. Ternyata tiketnya itu tidak terverifikasi juga,” ujar Teguh.

Agar tidak menjadi korban, Teguh menekankan pentingnya verifikasi dokumen, sebelum menindaklanjuti informasi yang diterima. Termasuk yang berkaitan dengan tawaran pekerjaan.

“Pastikan bahwa para pengguna, terutama sosial media, paham bahwa sebetulnya ada cara untuk melakukan pengujian (keaslian dokumen). Jadi, memverifikasi itu bagian penting. Kita tahun ini memperbanyak cek verifikasi dokumennya supaya tidak ada (kejadian) lagi,” bebernya. 

Untuk menekan kasus tersebut, Kemkomdigi juga menyiapkan tiga kanal pelaporan. Pertama, layanan cek verifikasi dokumen digital. Kedua, pelaporan rekening bank melalui layanan cekrekening.id. Ketiga, pelaporan nomor seluler mencurigakan melalui layanan aduannomor.id.

Apabila terindikasi berkaitan dengan tindakan penipuan, Kemkomdigi akan memblokir nomor rekening maupun nomor seluler tersebut. "Jadi ada tiga mekanisme tadi. Dokumennya dicek, rekeningnya dilaporkan, nomor selulernya dilaporkan," ujar Teguh.