Periskop.id – Konflik militer yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran diperkirakan akan terus berlangsung hingga Oktober 2026, dengan fokus serangan Israel terhadap Hizbullah di Lebanon dan kebuntuan perundingan damai AS-Iran, kata Pakar Hubungan Internasional Binus University Dinna Prapto Raharja.
Menurut Dinna, eskalasi konflik ini semakin meluas di kawasan Timur Tengah, termasuk serangan Israel ke Lebanon yang ditujukan untuk menekan sekutu Iran, Hizbullah. “Menurut saya dengan melihat peta kekuatan Israel, (perang) masih sampai Oktober… sampai pemilu Israel selanjutnya,” ujarnya seperti dilansir Antara, Rabu (10/6).
Ia menambahkan, Israel akan terus melancarkan serangan terhadap kelompok pejuang Lebanon sebagai upaya simbolik dan strategis. “Israel itu ingin membumihanguskan Beirut sebagai simbol jatuhnya Lebanon,” kata Dinna.
Di sisi lain, negosiasi damai antara AS dan Iran yang dimediasi Pakistan dinilai sulit membuahkan kesepakatan. Dinna menilai masing-masing pihak belum sampai pada titik jenuh yang memungkinkan mereka mencari solusi selain intervensi militer.
“Iran merasa tidak selemah itu, sementara Amerika tidak memperhitungkan kekuatan Iran. Amunisi AS juga menipis karena perang yang sudah berlangsung 100 hari dan belum bisa menyuplai kembali senjatanya,” tambahnya.
Dinna menegaskan, Iran tetap tidak akan menghentikan program nuklirnya, terutama di tengah agresivitas Israel di Lebanon dan negara-negara Timur Tengah lainnya. “Nuklir ini paling lama dan paling berat negosiasinya. Justru dengan Israel makin agresif di Lebanon dan negara-negara Timur Tengah, Iran makin tidak mau melepas program nuklirnya,” ujarnya.
Sementara itu, AS terus membekukan miliaran dolar aset Iran dan memberlakukan sanksi terhadap Teheran. Namun Iran menuntut pencairan aset sebagai syarat utama untuk penyelesaian konflik. Kedua negara juga masih berseteru mengenai Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi jalur 20% pasokan minyak dunia, sehingga memicu krisis energi global.
“Kondisinya masih deadlock di meja perundingan. Jadi prosesnya masih sangat lama. Sulit, perjanjian (damai) masih jauh,” kata Dinna menambahkan.
Situasi ini menunjukkan bahwa ketegangan di Timur Tengah diperkirakan akan berlanjut dalam beberapa bulan ke depan, dan setiap upaya diplomasi menghadapi tantangan besar akibat dinamika militer, politik, dan energi yang saling terkait.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar