Periskop.id - Dinamika keamanan maritim global sedang mengalami pergeseran fokus yang signifikan. Penutupan Selat Hormuz akibat ketegangan di Timur Tengah baru baru ini telah memaksa para pembuat kebijakan di Asia untuk menoleh lebih serius ke arah timur. 

Perhatian dunia kini tertuju pada Selat Malaka, jalur perairan sempit yang mengapit Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Singapura, yang kini resmi menyandang status sebagai jalur perairan tersibuk di dunia untuk perdagangan internasional.

Sebagai jalur pelayaran yang menjadi penghubung terpendek antara Asia Timur dengan Timur Tengah dan Eropa, Selat Malaka bukan sekadar rute laut biasa. Selat sepanjang 900 kilometer ini merupakan tulang punggung ekonomi bagi negara-negara besar seperti China, Jepang, dan Korea Selatan. 

Berdasarkan data terbaru, posisi strategisnya kini telah melampaui wilayah perairan mana pun di planet ini dalam hal volume transit energi.

Apa Itu Selat Malaka?

Melansir Reuters, Selat Malaka merupakan rute laut terpendek yang menghubungkan Asia Timur dengan Timur Tengah dan Eropa.

Menurut Center for Strategic and International Studies (CSIS), hampir 22% perdagangan maritim dunia melintasi jalur ini. Volume besar tersebut termasuk pengiriman minyak dan gas dari Timur Tengah ke negara-negara dengan kebutuhan energi tinggi seperti China, Jepang, dan Korea Selatan.

Data U.S. Energy Information Administration (EIA) menjelaskan bahwa Selat Malaka merupakan titik sempit transit minyak terbesar di dunia dan satu-satunya yang melampaui Selat Hormuz. Pada paruh pertama 2025, Selat Malaka tercatat sebagai jalur pelayaran minyak paling sibuk di dunia.

Volume pengiriman minyak mentah dan cairan petroleum yang melintasi Selat Malaka mencapai 23,2 juta barel per hari pada semester I 2025. Angka itu lebih tinggi dibanding Selat Hormuz yang berada di posisi kedua dengan 20,9 juta barel per hari.

Data tersebut menegaskan posisi Selat Malaka sebagai “urat nadi” perdagangan energi global, terutama untuk distribusi minyak dari Timur Tengah menuju China, Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara Asia Tenggara.

Tren Volume Minyak Selat Malaka dalam Lima Tahun Terakhir

Secara historis, volume minyak yang melintasi Selat Malaka cenderung stabil di atas 22 juta barel per hari dalam lima tahun terakhir.

Pada 2020, volume minyak yang melintas mencapai 22,8 juta barel per hari. Angka tersebut turun menjadi 22,1 juta barel per hari pada 2021.

Kemudian kembali naik menjadi 23 juta barel per hari pada 2022. Pada 2023, volume itu mencapai puncak di 24 juta barel per hari.

Lalu turun menjadi 22,5 juta barel per hari pada 2024 sebelum kembali meningkat menjadi 23,2 juta barel per hari pada semester I 2025.

Sementara itu, Selat Hormuz tetap menjadi chokepoint energi paling krusial kedua di dunia. Pada semester I 2025, volume minyak yang melintas di jalur tersebut tercatat 20,9 juta barel per hari.

Hormuz merupakan jalur utama ekspor minyak dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, Kuwait, dan Iran.

Berikut perbandingan volume minyak mentah dan cairan petroleum melalui chokepoint dunia dalam juta barel per hari:

Lokasi20202021202220232024S1 2025
Selat Malaka22,822,123,024,022,523,2
Selat Hormuz19,219,721,921,820,720,9
Terusan Suez & Pipa SUMED5,45,27,38,84,84,9
Bab el-Mandeb5,76,08,09,34,14,2
Selat Denmark3,13,14,25,04,94,9
Selat Turki (Dardanelles)3,23,33,23,53,63,7
Terusan Panama1,71,82,22,22,02,3
Tanjung Harapan7,97,26,16,29,39,1

Minyak Mentah dan LNG Jadi Muatan Utama

Dari total 23,2 juta barel per hari yang melintas di Selat Malaka pada semester I 2025, sebanyak 16,6 juta barel per hari merupakan minyak mentah dan kondensat.

Sementara 6,5 juta barel per hari lainnya merupakan produk petroleum seperti bensin, diesel, dan bahan bakar olahan. Selain minyak, Selat Malaka juga menjadi jalur penting perdagangan LNG.

Volume LNG yang melintas mencapai 9,2 miliar kaki kubik per hari pada semester I 2025. Meski sedikit turun dari 10,1 miliar kaki kubik per hari pada 2024, angka tersebut tetap jauh lebih tinggi dibanding 2020 yang hanya 7,4 miliar kaki kubik per hari.

Berikut rincian volume minyak dan LNG melalui Selat Malaka:

Jenis20202021202220232024S1 2025
Total aliran minyak22,822,123,024,022,523,2
Minyak mentah & kondensat16,415,416,317,115,916,6
Produk petroleum6,46,66,76,96,66,5
LNG (dalam miliar kaki kubik per hari)7,48,98,39,410,19,2

Intensitas Pelayaran dan Dominasi Kapal Asing

Aktivitas pelayaran di Selat Malaka terus mengalami eskalasi. Berdasarkan data Departemen Kelautan Malaysia, lebih dari 102.500 kapal melintasi selat ini pada tahun 2025, meningkat signifikan dari sekitar 94.300 kapal pada tahun sebelumnya. Mayoritas dari armada ini adalah kapal komersial dan kapal tanker berukuran besar.

Menariknya, sebuah studi berjudul AIS Data-Based Maritime Statistics Analysis in the Strait of Malacca yang diterbitkan pada 2025 mengungkap bahwa lalu lintas maritim di wilayah ini didominasi oleh kapal berbendera asing. 

Bendera dari negara Panama, Singapura, dan Kepulauan Marshall menjadi yang paling sering terlihat. Dari sisi jenis kapal, kapal kargo memegang porsi terbesar sebanyak 54,49%, diikuti oleh kapal tanker sebesar 24,02%.

Tingginya aktivitas ini tercermin dari status operasional kapal, di mana 84,88% kapal berada dalam status Under Way Using Engine atau sedang berlayar menggunakan tenaga mesin secara aktif. Kepadatan lalu lintas rata-rata tercatat sebesar 1,36 kapal per kilometer persegi per bulan, sebuah angka yang menunjukkan betapa sesaknya jalur perairan ini.

Risiko Navigasi dan Ancaman Keamanan

Kepulauan yang rapat dan jalur yang sempit menciptakan tantangan navigasi yang luar biasa. Di titik tersempitnya, yaitu Phillips Channel di Selat Singapura, lebar perairan hanya sekitar 1,7 mil atau 2,7 kilometer. 

Kondisi ini menciptakan kemacetan alami yang meningkatkan risiko tabrakan, kapal kandas, hingga potensi tumpahan minyak yang dapat merusak ekosistem laut Indonesia dan negara tetangga.

Kedalaman selat yang hanya berkisar antara 25 hingga 27 meter juga menjadi batasan fisik. Walaupun kapal tanker raksasa jenis Very Large Crude Carriers (VLCC) dengan panjang lebih dari 350 meter dan draft lebih dari 20 meter masih nekat melintas, beberapa kapal dengan ukuran lebih besar mulai memilih jalur alternatif ke arah selatan melewati perairan dalam Indonesia. 

Meskipun jalur alternatif ini tersedia, pengalihan rute dipastikan akan menambah waktu perjalanan, menunda pengiriman, dan pada akhirnya mendorong kenaikan harga energi global.

Masalah keamanan juga tetap menjadi hantu bagi para pelaut. Selat Malaka selama bertahun-tahun telah menjadi titik rawan pembajakan. Pada 2025, tercatat lonjakan serangan kriminal hingga setidaknya 104 kasus. 

Meskipun organisasi ReCAAP Information Sharing Centre melaporkan adanya penurunan serangan pada kuartal pertama tahun ini, kewaspadaan tetap menjadi prioritas utama bagi otoritas kawasan.

Geopolitik: "Malacca Dilemma" dan Bayang-bayang Konflik

Bagi Beijing, Selat Malaka adalah kerentanan strategis yang sering disebut sebagai "Malacca Dilemma". Data pelacak tanker Vortexa menunjukkan bahwa sekitar 75% impor minyak mentah China yang dikirim via laut harus melewati selat ini. 

Krisis Iran yang terjadi saat ini memperjelas kekhawatiran lama, jika konflik pecah di Laut China Selatan atau Selat Taiwan, jalur Malaka bisa dengan mudah terdampak atau bahkan diblokade.

Ketegangan kian bertambah dengan temuan otoritas Malaysia mengenai meningkatnya frekuensi transfer kapal ke kapal (ship-to-ship transfer) secara ilegal. 

Aktivitas pemindahan minyak antar kapal tanker di tengah laut ini sering digunakan untuk menyamarkan asal muasal minyak, yang diduga terkait dengan upaya penghindaran sanksi internasional atau perdagangan minyak ilegal.

Dengan volume perdagangan maritim dunia yang mencapai 22% di jalur ini, keamanan Selat Malaka bukan lagi sekadar urusan domestik Indonesia, Malaysia, atau Singapura. 

Ini adalah masalah stabilitas ekonomi global. Kegagalan dalam mengelola keamanan di titik transit ini akan memberikan efek domino yang jauh lebih merusak daripada krisis energi mana pun yang pernah dialami dunia modern.