Periskop.id - PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) mencatatkan pendapatan bersih US$82,1 juta pada semester I-2026, naik 22,8% secara tahunan (yoy). Namun laba bersih perusahaan justru anjlok 74% yoy menjadi US$19,3 juta pada periode yang sama.
Manajemen CDIA menyebutkan, penurunan laba bersih itu tak lepas dari lonjakan beban pokok pendapatan sebesar 30,9% yoy menjadi US$62,5 juta sepanjang paruh pertama tahun ini. Marjin laba bersih perusahaan pun tercatat 23,5% pada periode tersebut.
"Posisi likuiditas yang kuat ini memberikan fleksibilitas keuangan untuk mendukung pengembangan proyek-proyek strategis, sekaligus menjalankan investasi secara disiplin guna meningkatkan pendapatan berulang dan berbasis kontrak," tulis Manajemen CDIA dalam keterbukaan informasi, Rabu (29/7).
Pertumbuhan pendapatan CDIA terutama ditopang oleh segmen logistik yang melesat 80,2% yoy menjadi US$27 juta. Kenaikan ini sejalan dengan ekspansi bisnis logistik maritim dan darat perusahaan.
Segmen energi turut menyumbang kenaikan pendapatan sebesar 5,4% menjadi US$51,8 juta. Laba bruto perusahaan pun tetap tumbuh 2,8% yoy menjadi US$19,6 juta, meski beban operasional meningkat.
Profitabilitas CDIA dari sisi operasional justru menguat. EBITDA perusahaan naik 25,3% yoy menjadi US$31,6 juta, dengan margin EBITDA terkerek dari 37,7% menjadi 38,5%.
Kondisi keuangan CDIA juga tergolong solid. Per 30 Juni 2026, perusahaan memegang kas, setara kas, dan surat berharga senilai US$658,7 juta, dengan rasio utang terhadap kapitalisasi sebesar 41%.
Sepanjang semester I-2026, CDIA mencatatkan sejumlah tonggak bisnis penting. Pelayaran perdana dan sandar perdana kapal Novah, kapal logistik cair kimia berkapasitas 9.000 DWT hasil kerja sama dengan Usuki Shipyard, jadi salah satu pencapaian utama.
Kapal tersebut disebut memperkuat kapabilitas logistik maritim CDIA sekaligus meningkatkan keandalan layanan pada rute domestik dan internasional. Manajemen menyatakan hal ini juga mendukung pertumbuhan permintaan distribusi bahan kimia dan rantai pasok industri di kawasan.
"Kami juga memperluas bisnis di luar angkutan konvensional bahan kimia dan gas melalui investasi strategis," lanjut Manajemen CDIA.
Perusahaan menggelontorkan US$90 juta untuk mengakuisisi 40% kepemilikan PT Armada Maritim Persada, memperluas kehadiran CDIA di bidang logistik pertambangan dan jasa pengelolaan pelabuhan. CDIA juga menanamkan US$15,5 juta untuk memperoleh 49% kepemilikan Petrosea Services Solutions Pte. Ltd., yang membuka akses ke basis pelanggan lebih luas dan arus kargo yang lebih terdiversifikasi.
Pada pilar kepelabuhanan dan penyimpanan, anak usaha CDIA, PT SCG Barito Logistics, meneken nota kesepahaman dengan PT Krakatau Bandar Samudera untuk menjajaki pengembangan layanan penyimpanan ISO tank, dry-container storage, dan layanan lift-on/lift-off di Krakatau International Port. Pembangunan fasilitas penyimpanan bitumen berkapasitas 12.000 meter kubik di Merak pun sudah mencapai sekitar 75% dan ditargetkan beroperasi pada kuartal ketiga 2026.
Di sektor energi, PT Chandra Waste Energy bersama mitra konsorsiumnya ditunjuk untuk melaksanakan studi kelayakan proyek waste-to-energy Danantara di Serang. Ke depan, CDIA menyatakan akan fokus menyelesaikan proyek yang tengah berjalan, mengoperasikan aset-aset baru, serta memperbesar kontribusi pendapatan dari pihak ketiga.
Tinggalkan Komentar
Komentar